Showing posts with label Perang di Afrika. Show all posts
Showing posts with label Perang di Afrika. Show all posts

Wednesday, April 11, 2012

Hilangnya Mutiara Hitam



Datang sebagai pembebas rakyat Kongo, Lumumba menjadi korban Perang Dingin.
OLEH: MF. MUKTHI
PERISTIWANYA terjadi nun jauh di negeri orang: Kongo. Namun di Labuan Batu, Sumatra Utara, buruh-buruh perkebunan marah. Mereka mengambil-alih perkebunan-perkebunan milik pengusaha Belgia di daerah Mrangir, Aek Paminke, Pernantian, Perlabian, Kanopan Ulu, Padang Halaban, Negeri Lama, dan Sennah. Aksi buruh itu tanpa disertai tindak kekerasan. Tak ada korban jiwa. Mereka juga melaporkan ke pihak berwajib setelah selesai aksi.
Di Jawa Barat, aksi serupa gagal. Pangdam Siliwangi Ibrahim Adjie keburu mengeluarkan larangan. “Terhadap perbuatan-perbuatan yang demikian dapat diambil tindakan sesuai dengan ketentuan undang-undang/peraturan-peraturan yang ada dan berlaku bagi Penguasa Keadaan Bahaya,” tulis Pikiran Rakjat, 23 Maret 1961.
Aksi buruh di sejumlah wilayah di Indonesia itu merupakan bentuk protes atas terbunuhnya Perdana Menteri Patrice Lumumba asal Kongo. Lumumba dan rakyatnya dianggap sebagai teman seperjuangan melawan kolonialisme, penindasan, dan penghisapan.
Lumumba lahir 2 Juli 1925 di Onalua, wilayah Katakokombe, provinsi Kasai, Kongo. Saat itu Kongo adalah wilayah jajahan Belgia sejak 1908. Sejak muda, Lumumba gandrung akan kemerdekaan negerinya. Setelah sempat bekerja sebagai sales bir dan klerek kantor pos, dia mulai manapak karier di dunia politik lewat Partai Liberal Belgia. Pada 1958, dia ikut mendirikan Gerakan Nasional Kongo (MNC) dan kemudian jadi presidennya. Pada tahun yang sama, dia mewakli MNC dalam konferensi All-African Peoples di Accra, Ghana, yang mempertebal keyakinannya akan Pan-Afrika.
Di penghujung 1959, Lumumba ditahan atas tuduhan menghasut kerusuhan antikolonial di Stanleyville yang menewaskan 30 orang. Berbarengan dengan masa awal penahanannya, Konferensi Brusel yang membicarakan masa depan Kongo digelar. MNC menuntut pembebasan Lumumba dan berhasil. Lumumba bebas dan hadir dalam konferensi. Konferensi pun memutuskan kemerdekaan Kongo pada 30 Juni. Sebelum perayaan kemerdekaan, digelar pemilihan umum. Lumumba dan MNC menang dan berhak membentuk pemerintahan. Lumumba jadi perdana menteri, dengan wakil Antoine Gizenga. Sementara Joseph Kasavubu, tokoh nasionalis terkemuka asal Partai Abako, terpilih sebagai presiden.
Dalam perayaan kemerdekaan, yang juga dihadiri Raja Belgia Baudouin, Lumumba mengingatkan penderitaan rakyat Kongo di bawah kolonialisme. Dia juga menyebut kemerdekaan Kongo tak diberikan dengan murah hati oleh Belgia.
Bukan hanya Belgia, Amerika Serikat juga tak senang atas kondisi baru di Kongo. Gerakan kemerdekaan total Lumumba mengganggu kepentingan Barat. Terlebih, sebelumnya Amerika menguasai kekayaan alam negeri itu, sebagai kompensasi dukungannya terhadap klaim Raja Belgia Leopold II atas wilayah cekungan Kongo pada abad ke-19. Sebagai gambaran, uranium untuk bahan pembuat bom atom yang digunakan di Hiroshima-Nagasaki diambil dari pertambangan di Kongo. “Selama 126 tahun, AS dan Belgia telah memainkan peran kunci dalam membentuk nasib orang Kongo,” tulis Georges Nzongola-Ntalaja, profesor African and Afro-American studies di University North Carolina, dalam “Patrice Lumumba: The Most Important Assassination of the 20th Century”, dimuat www.guardian.co.uk.
Amerika pun mendorong Belgia untuk mengambil-alih Kongo kembali. Mereka menginginkan status quo. Di tengah Perang Dingin, mereka juga khawatir Kongo jatuh ke Blok Timur.
Di dalam negeri, Lumumba menghadapi pemberontakan tentara yang tak puas atas kebijakannya yang hanya menaikkan gaji pegawai sipil. Kerusuhan juga meluas. Tak lama kemudian Provinsi Katanga di bawah Moise Tshombe, dengan dukungan Belgia dan perusahaan pertambangan seperti Union Miniere, memerdekakan diri. Provinsi kaya sumberdaya alam lainnya, Kasai Selatan, menyusul.  
Lumumba minta pasukan penjaga perdamaian PBB memadamkan pemberontakan tapi tak berhasil. Dia berpaling ke Uni Soviet.
Presiden Kasavubu, yang tak suka cara yang ditempuh Lumumba, memecat Lumumba. Lumumba protes. Kongo dikendalikan dua kubu yang saling klaim kekuasaan, Kasavubu di Leopoldsville (kini Kinshaha) dan Lumumba di Stanleyville (kini Kisangani). Ketidakamanan itu membuat Kolonel Joseph Mobutu melakukan kudeta pada 14 September. Lumumba dikenai tahanan rumah dengan penjagaan pasukan keamanan PBB. Dia sempat meloloskan diri dan membentuk pemerintahan di pelarian, namun akhirnya kembali ditangkap.
Soviet, yang menuding sekjen PBB dan Barat sebagai pihak yang bertanggungjawab atas penangkapan itu, menuntut pembebasan Lumumba. Dewan Keamanan PBB lalu menggelar sidang darurat. Perdebatan sengit dan saling veto antara Blok Timur dan Blok Barat terjadi. Soviet kalah suara. Negara-negara yang setuju pendapat Soviet menarik diri dari kontingen pasukan perdamaian. Indonesia salah satunya.
Setelah dipindah ke sana kemari, Lumumba dibawa ke Provinsi Katanga. Dia lalu disekap di Brouwez House. Di situ Tshombe dan “utusan-utusan” Barat merapatkan pembunuhan Lumumba.
Suatu malam awal 1961, Lumumba dibawa ke sebuah tempat rahasia dan wafat di tangan tiga regu tembak. Jasadnya dimutilasi dan dibuang. “Ini jelas solusi elegan yang terbaik bagi Katanga: kematian pasti untuk Lumumba, dan tangan orang-orang Tshombe bersih dari lumuran darah,” tulis Ludo De Witte dalam The Assassination of Lumumba. De Witte menyebutnya sebagai “pembunuhan terpenting abad ke-20”.
Selama puluhan tahun, kematian Lumumba menyisakan kabut: siapa aktor dan dalang di balik pembunuhannya. Belgia menuding Tshombe. Namun pembunuhan itu kini tersingkap tirainya. “Kejahatan keji ini merupakan puncak komplotan pembunuhan buatan pemerintah Amerika dan Belgia, yang menggunakan tangan Kongo dan regu tembak Belgia untuk melaksanakannya,” tulis Georges Nzongola-Ntalaja.
Kematian Lumumba mengejutkan banyak orang di belahan dunia. Di Indonesia, Presiden Sukarno, yang juga berkali-kali jadi sasaran pembunuhan dari tangan-tangan kekuatan asing, menyebut tindakan pengecut itu sebagai banditisme dan menyimpulkannya sebagai tindakan ofensif baru kaum imperialis yang terpaksa dilakukan karena di mana-mana mereka dipukul mundur. Untuk mengenangnya, Sukarno mengabadikan namanya menjadi Jalan Patrice Lumumba (kini Jalan Angkasa, Jakarta) di kawasan Gunung Sahari.
Sementara D.N. Aidit, ketua CC PKI, menyerukan: hukum pembunuh Lumumba dan dukung pemerintah Gizenga! Aidit juga menorehkan kepedihannya dalam sebuah puisi “Yang Mati Hidup Kembali”. Sejawatnya, Njoto, menulis “Merah Kesumba”: Darah Lumumba Merah Kesumba / Kongo!

Monday, October 31, 2011

Warisan Politik Kolonel Muamar Gaddafi

Selama hampir 42 tahun berkuasa di Libya, Kolonel Muammar Gadhafi adalah salah satu diktator dunia yang paling eksentrik. Gaddafi sangat piawi memainkan peran politiknya, terkadang dikutuk dan terkadang didekati oleh Barat.

Sementara pemimpin Libya itu, selama berkuasa sangat brutal terhadap rakyatnya terutama, para aktivis Islam, dan sudah berapa banyak tokoh aktivis Islam yang tewas, maupun di penjarakannya. Gaddafi benar-benar seorang otokratis, sampai akhirnya digulingkan oleh rakyatnya.

Gaddafi penguasa yang paling lama berkuasa, 42 tahun, diantara penguasa di dunia Arab modern ini. Gaddafi selalu menampilkan dirinya sebagai "Pemimpin" di dunia Arab, dan penampilannya selalu kontras dan mencolok. Gaddafi suatu ketika menjadi sponsor gerakan perlawanan, dan sangat membenci Barat dan Yahudi, kemudian dia dituduh meledakkan dua pesawat penumpang di Lockerbie. Tetapi, Gaddafi kemudian membantu AS dalam perang melawan teror.

Gaddafi adalah seorang nasionalis Arab yang suka mengejek penguasa Arab yang dituduhnya sebagai antek Barat dan Zionis-Israel. Dalam puncak paradoknya, Gaddafi mengkhotbahkan tentang visinya yang paling "revolusioner" dan utopia, tapi suatu hari berubah menjadi diktator, yang akhirnya memicu revolusi terhadap dirinya.

Presiden AS Barack Obama berjabat tangan dengan pemimpin terguling Libya Muammar Gadhafi, sebelum makan malam pada pertemuan puncak G8 di L'Aquila pada 9 Juli, 2009. Di mana Gaddafi dapat bertemu dengan para pemimpin dunia, yang sangat langka itu.

Kematiannya pada hari Kamis, 20 Oktober, menjelang usianya yang ke 69 - ungkap Perdana Menteri Mahmoud Jibril - di mana sesudah terjadi perang yang sangat brutal dengan para pejuang Libya yang datang mengalahkannya di kota kelahirannya, Sirte. Gaddafi bersumpah tidak akan meninggalkan negaranya, sampai mati, dan keinginannya terkabul.

Sekarang para pejuang Libya (Minggu ini) mendeklarasi akhir kemenangan mereka, di Bengazi. Sebelumnya, Gadhafi tersingkir dari kekuasaannya oleh pemberontak yang dramatis, di mana rakyat diibukota Tripoli, merayakan kemenangan yang sangat luar biasa, pada 21 Agustus. Perang sipil yang berlangsung selama enam bulan, dan menelan korban yang begitu banyak.

Gaddafi terus meneriakkan dan memberikan dorongan para pengikutnya dan tentaranya, terus:"melawan!". Gadhafi telah mendesak para pengikutnya bahkan saat musuh-musuhnya berada di depan pintu gerbang ibukota Tripoli, sebelum melarikan diri ke daerah pedalaman Libya, di mana dia menyerukan kepada para pendukungnya harus terus bertempur, sampai titik darah penghabisan.

Gadhafi meninggalkan bangsanya, dan negeri yang sangat kaya minyak. Minyak begitu melimpah. Negeri yang berpenduduk 6,5 juta itu, sekarang mengalami trauma dengan berbagai kebijakan Gaddafi yang menguras kekayaan negara. Ibaratnya kapal negara diarahkan oleh keinginan seorang pria dan keluarganya. Gaddafi sangat terkenal dengan pakaian yang mewah - mulai dari jas putih dan kacamata hitam dengan seragam militer dengan bahunya menjumbai, jubah berwarna cerah dihiasi dengan peta Afrika - dia menyebut dirinya sebagai pemimpin "Bedouin", Raja, dan Filsuf.

Gaddafi sangat menikmati julukan dari para pemimpin dunia sebagai pemimpin yang menyebalkan, baik di Barat atau Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan, setelah pemboman 1986, yang menewaskan prajurit AS di Berlin, menuduh Libya. Reagan memberikan julukan Gaddafi sebagai "anjing gila." Mantan Presiden Mesir Anwar Sadat, yang terlibat perang perbatasan dengan Libya pada 1970-an, menulis dalam buku hariannya bahwa Gadhafi adalah "sakit jiwa" dan "membutuhkan pengobatan."

Muammar Gadhafi dan Para Pemimpin Dunia

Pemimpin Libya Muammar Gadhafi menghadiri perayaan ulang tahun tahta kekuasaannya ke-40, di Lapangan Hijau di Tripoli, 1 September 2009.

Dibalik karakternya yang flamboyan dan kecakapannya memainkan pertunjukan politik, rekannya mengatakan Gadhafi adalah pemimpin yang sangat teliti dalam mengelola kekuasaannya. Gaddafi terlibat dan ikut langsung dalam keputusan besar dan kecil, dan secara terus-menerus bertemu secara pribadi dengan para pemimpin suku dan pejabat militer yang mendukung dia.

Mereka yang menjadi bagian kekuasaannya itu, mendapatkan posisi-posisi yang sangat penting dalam kekuasaannya. Tetapi, umumnya pos-pos yang sangat penting diserahkan kepada keluarganya. Seperti anak-anaknya, saudaranya, dan keluarga dekatnya.

Gaddafi secara permanen melakukan cengkeramannya pada negara. Banyak usaha kudeta dan upaya pembunuhan terhadap dirinya selama bertahun-tahun, tetapi sebagian besar berakhir dengan eksekusi terhadap para komplotan yang ingin menggulingkannya. Mereka yang ingin menggulingkannya mendapt ganjaran digantung di alun-alun ibukota Tripoli, dan disaksikan rakyatnya.

Mengapa umur kekuasaannya begitu panjang? Rahasianya terletak pada cadangan minyak yang sangat besar di bawah gurun pasir di negara Afrika Utara itu. Inilah yang menyebabkan umur kekuasaan Gaddafi begitu panjang. Karena uang dari minyak yang mengalir tanpa henti, bermilyar-milyar dollar, dan sekarang kekyaaan Gaddafi mencapai $ 160 miliar dollar, dan dengan kekayaan sebesar itu, Gaddafi dapat melakukan apa saja yang diinginkannya.

Tetapi, yang paling spektakuler peristiwa yang terjadi pada akhir 2003. Di mana Gaddafi selalu menyangkal, keterlibatannya dalam pemboman pesawat Pan Am, tetapi tiba-tiba Gaddafi mengakui bertanggungjawab atas pemboman terhadap pesawat Pan Am tahun l988, yang menewaskan seluruh penumpangnya, di atas Lockerbie, Skotlandia, yang menewaskan 270 orang. Gaddafi setuju membayar hingga US $ 10 juta dollar tiap keluarga korban.

Gaddafi melakukan langkah-langkah yang dramatis lainnya, di mana Gaddafi juga mengumumkan bahwa Libya akan membongkar arsenal nuklirnya, program senjata kimia dan biologi yang berada di bawah pengawasan internasional.

Peristiwa itu mengubah persepsi Barat terhadap Gaddafi, yang sebelumnya dituduh sebagai : "Sponsor dan bapak" terorisme internasional, dengan sangat cepat mendapatkan penghargaan dari negara-negara Barat. Persepsi negara-negara Barat berubah drastis, dan para pemimpin Barat, mengantri ingin bertemu dengan Gaddafi.

Maka, hanya beberapa bulan kemudian, Amerika Serikat menghapus sanksi ekonomi dan melakukan normalisasi kembali hubungan diplomatik dengan Libya. Para pemimpin Uni Eropa di Brussels bertemu dengan Presiden Muammar Gadhafi. Dengan jamuan yang sangat istimewa. Sebagai sahabat. Tidak nampak adanya permusuhan, seperti yang terjadi sebelumnya.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Condoleezza Rice pada tahun 2008, menjadi pemimpin pertama dan pejabat tertinggi Amerika Serikat mengunjungi negara Libya, di mana hubungan antara Amerika Serikat - Libya sudah lebih dari 50 tahun putus. Perdana Menteri Inggris Tony Blair, mengunjunginya di Tripoli, bahkan Blair mendapatkan "hadiah" yang tidak sedikit dari Gaddafi.

Perusahaan minyak internasional bergegas untuk berinvestasi di bidang Libya. Dokumen terungkap setelah jatuhnya Gadhafi mengungkapkan kerjasama yang erat antara badan intelijen dan CIA dalam mengejar tersangka teror setelah 9 / 11 serangan, bahkan sebelum AS mencabut penunjukan dari Libya sebagai sponsor teror di tahun 2006.

Namun, sikap Gadhafi tidak berubah. Setelah polisi Swiss melakukan penangkapan anaknya Hannibal, karena diduga memukuli dua pelayan di sebuah hotel mewah di Jenewa pada tahun 2008, Gadhafi menangkap dua warga negara Swiss, dan kedua pria Swiss itu ditahan dengan tuduhan yang tidak jelas. Sampai kemudian Gaddafi melepaskan kedua pria Swiss, sesudah anaknya Hanibal dibebaskan pmerintah Swiss.

Negara-negara Eropa, sangat bersemangat membangun hubungan ekonomi dengan Libya. Para investor dari Uni Eropa datang berbondong-bondong ke Libya menanamkan invstasi dibidang minyak, gas, dan industri serta terlibat dalam pembangunan. Sengketa dengan Swiss berakhir.

Tapi, Gadhafi yang sangat lekat dengan mencintai kekuasaannya itu, sekali lagi paria yang flamboyan itu, menggunakan kekuatan militernya yang sangat canggih melakukan penumpasan dengan brutal terhadap pemberontakan rakyatnya, Februari. Gaddafi mengerahkan seluruh kekuatan militer, dan bahka menyewa pasukan bayaran dari Uni Afrika, guna menghadapi pemberontakan rakyatnya. Semua gerakan rakyat di Libya itu, terinspirasi oleh "Revolusi di Dunia Arab". Inilah yang menjadi titik awal berakhirnya era kekuasaan Presiden Muammar Gaddafi, yang sudah berlangsung selama 42 tahun. Waktu yang sangat panjang bagi sebuah kekuasaaan.

Tetapi, hakekatnya "Barat adalah Barat", selalu pragmatis. Gaddafi yang sudah berubah, dan menjadi sekutu Barat, tidak dibelanya, dan tidak ada belas kasihannya terhadap Gaddafi, yang menghadapi pemberontakan rakyatnya. Justru negara-negara Barat, yang sudah memilliki hubungan persahabatan para pemimpinnya dengan Kolonel Muammar Gaddafi itu, mensponsori resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB,yang mengesahkan zona larangan terbang bagi k Libya pada bulan Maret, dan dilanjutkan NATO melancarkan kampanye serangan udara melawan pasukan Gaddafi secara massif.

Begitu watak Barat terhadap para sekutu dan teman mereka, jika sudah posisi melemah, dan tidak mendapatkan dukungan rakyatnya, tak segan-segan membuangnya, dan ikut menghancurkannya. Seperti yang dialami Gaddafi.

Kekuatan para oposisi tidak memadai tanpa adanya dukungan pasukan Nato, yang menggunakan arsenal angkatan udaranya, yang terus-menerus melakukan pemboman terhadap posisi-posisi pasukan Gaddafi, dan itu memberikan keuntungan dan kemenangan bagi kekuatan oposisi.

"Saya seorang pejuang, seorang revolusioner dari tenda. ... Saya akan mati sebagai seorang martir di akhir kekuasaan saya," ucapnya. Semuanya pernyataannya terbukti. Itulah pidato terakhirnya di televisi selama berlangsungya pemberontakan, dengan suara yang bergetar podium dekat patung emas, yang menghancurkan sebuah pesawat tempur Amerika Serikat.

Gadhafi lahir pada tahun 1942 di padang pasir Libya dekat Sirte. Gaddafi putra dari seorang ayah Badui yang pernah dipenjara, karena menentang penjajah Italia. Gadhafi muda tampaknya mewarisi sifat ayahnya yang pemberontak. Ketika masih sekolah, dikeluarkan dari sekolah, karena memimpin demonstrasi, dan menjadi tentara Gaddafi mengorganisir sel revolusioner, yang kemudian melakukan kudeta.

Pada tahun 1969, ketika Gaddafi masih berpangkat kapten, dan berusia 27 tahun, Gaddafi muncul sebagai pemimpin dari kelompok perwira yang menggulingkan Raja Idris. Gaddafi, seorang tokoh, yang tampan gagah berseragam dan kacamata hitam, Gadhafi mengambil alih kekuasaan tak terbantahkan dan menjadi simbol perlawanan anti-Barat di Dunia Ketiga, ketika itu, Libya baru saja dibebaskan dari penguasa kolonial Eropa.

Selama tahun 1970-an, Gadhafi berusaha mengubah bangsanya. Gaddafi menutup pangkalan udara AS. Gaddafi mengusir 20.000 warga negara Italia, sebagai balasan atas penjajahan yang dilakukan Itali, selama tahu 1911-1941. Perusahaan-perusahaan dinasionalisasi. Gaddafi sebagai sosok baru di dunia Arab dan Afrika Utara, yang sangat memberi inspirasi, dan melebihi Presiden Gamal Abdul Nasser.

Pada tahun 1975 ia menerbitkan "Buku Hijau," yang menjadi manifesto politik yang meletakkan apa yang disebut "Teori Internasional Ketiga" dari pemerintah untuk rakyat. Di mana Gaddafi membuat visi yang akan menjadi alternatif, menghadapi Dunia Barat, yang sangat mapan, dan menindas. Gaddafi menyatakan Libya menjadi "Jamahiriya" - "Republik Rakyat" sebuah neologisme Arab. Gaddafi dalam "Buku Hijau" menggabungkan Islamisme, Sosialisme, dan Arabisme. Mirip Nasakomnya Soekarno di Indonesia.

Semua aturan, menyerukan demokrasi perwakilan, yang sebenyarnya suatu bentuk tirani, dan Libya diorganisir menjadi "komite rakyat", yang akhirnya menjelma "Kongres Rakyat," semacam parlemen.

Akhirnya, semua aturan dimaksud dengan tidak ada kecuali Gadhafi, yang ditinggikan dirinya menjadi kolonel dan menyatakan dirinya sebagai "Pemimpin".

"Dia bercita-cita untuk menciptakan sebuah negara yang ideal," kata analis Afrika Utara Saad Djebbar dari Universitas Cambridge. "Dia berakhir tanpa komponen negara yang normal, dan semua ditentukan oleh 'kekuatan rakyat',dan itu sistem yang paling tidak berguna di dunia..". Tetapi, semuanya menjelma menjadi dirinya sendiri.

Pada 1970-an dan 1980-an, Gadhafi mendukung kelompok yang dianggap oleh Barat menjadi teroris - dari Tentara Republik Irlandia, kelompok pejuang Palestina pejuang Muslim di Filipina. Gaddafi melakukan serangkaian petualangan militer di Afrika, menyerang Chad pada 1980-89, dan memasok senjata, memberi pelatihan dan keuangan pemberontak di Liberia, Uganda dan Burkina Faso.

Sebuah insiden 1984 di Kedutaan Besar Libya di London. Seorang pria bersenjata di dalam kedutaan menembaki demonstran terhadap lawan Gadhafi yang ada diluar, dan menewaskan seorang polisi Inggris.

Pemboman Lockerbie diikuti pada tahun 1988, diikuti pemboman terhadap sebuah pesawat Perancis atas Niger, Afrika Barat. Barat marah, dan bertahun-tahun Libya dikenakan sanksi.

Tetapi, suatu perubahan dimulai pada tahun 1999, ketika pemerintah Gadhafi menyerahkan dua Libya untuk diadili dalam pemboman Lockerbie. Pada tahun 2001, sebuah pengadilan Skotlandia, seorang agen intelijen dihukum, dan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup.

Pada tahun 2002, Gadhafi mengatakan kepada rakykatnya di kota Sabha, selatan ibukota Tripoli. Gaddafi mengatakan, "Di hari tua saya, mereka menyebut kami sebuah negara yang jahat, mereka menuduh kami sebagai negara yang berbahaya. Kami.. dituduh memiliki perilaku revolusioner", ujarnya.

Sepanjang pemerintahannya, ia adalah seorang pemain sandiwara yang sangat piawai melakonkan perannya di tengah-tengah masyarakat dunia. Gaddafi tidak pernah berhenti bersandiwara. Sampai titik akhir perjalanannya di kampung halamannya di Sirte.

Penampilannya di KTT Liga Arab membuat para pemipin Arab mengernyit dahinya. Pada satu kesempatan, Gaddafi berargumen sangat keras dengan Raja Arab Saudi Abdullah, membuat kebencian abadi dengan Raja Arab Saudi itu. Di kesempatan lainnya, Gadhafi merokok cerutu di ruang konferensi selama pidato untuk menunjukkan kebenciannya terhadap Raja Arab Saudi.

Dalam pidato PBB 2009, Gaddafi berbicara tentang ketidak nyamanannya selama berada di New York, karena jet lag, kemudian merobek-robek salinan Piagam PBB, Dewan Keamanan, sembari mengatakan, "Seharusnya disebut dewan terorisme", ucapnya.

Dalam kunjungan ke berbagai negara, Gaddafi sering bersikeras mendirikan tenda, yang sangat merepotkan bagi negara yang dikunjunginya. Dia memakai pengawal pribadi perempuan - yang Gaddafi pernah menjelaskan dengan mengatakan: ". Tidak ada orang laki-laki di dunia Arab", cetusnya.

Sebuah kabel 2009 diplomatik Amerika Serikat yang dirilis oleh situs WikiLeaks, menyebutkan Gadhafi takut tinggal di lantai atas gedung bertingkat, keengganannya naik pesawat terbang, dan suka balap kuda dan menari flamengo.

Gaddafi mengganti nama bulan, bulan Januari yang dingin menjadi, "Ain al-Nar," bahasa Arab untuk "Di mana neraka."

Dalam dekade terakhir, kekuasaannya semakin terkonsentrasi kepada delapan anak kandungnya, yang menguasai pasukan elite militer, intelijen, atau posisi bisnis yang menguntungkan.Anaknya Seif al-Islam, yang berpendidikan di Cambridge, Inggris, secara luas dilihat dipersiapkan sebagai penggantinya. Nampaknya, tidak kepada Kamis, kekuasaan itu akan dialihkannya. Putri satu-satunya, Aisyah, menjadi pengacara dan membantu dalam pemerintahan Saddam Hussein, diktator Irak terguling.

Gadhafi tidak menghabiskan pendapatan minyaknya membangun sekolah, rumah sakit, irigasi dan perumahan. Tidak begitu menyolok sebagai negara yang paling kaya minyak di kawasan Mediterania dalam pembangunan.

"Dia benar-benar membawa Libya dari menjadi salah satu negara yang paling terbelakang dan paling miskin di Afrika. Negara yang kaya minyak dengan infrastruktur yang terbatas, dan penduduk Libya tidak mendapatkan layanan yang memadai bagi kebutuhan hidup mereka", ucap George Joffe dari Universitas Cambridge.

Sepertiga rakyat Libya tetap dalam kemiskinan. Tetapi, Gadhafi hidup dengan penuh berkah dan kekayaan yang melimpah, dan hidup serba mewah di ibukota Tripoli yang disulap menjadi sebuah "surga". Sementara itu, bagian timur Libya, seperti Benghazi, yang menjadi pusat pemberontakan, tetap miskin.

Putranya, selama berlangsung pemberontakan 2011 di Misrata, yaitu Khamis dan Mu'tasim, yang memimpin pasukan unit khusus militer, diyakini tewas. Lainnya, bersama dengan istrinya Safiyah, melarikan diri ke Aljazair tetangga atau Niger. Seif al-Islam, berhasil melarikan diri ke Niger.

Kisah Kolonel Muammar Gaddafi yang sangat penuh warna dalam kehidupan dan kekuasaannya, dan berakhir dengn sangat tragis, dibunuh oleh rakyatnya sendiri. (mas)

Sumber: http://www.eramuslim.com

Hari Ini NATO Akhiri 7 Bulan Operasi Militer di Libya

NATO mengakhiri pemboman tujuh bulan mereka di Libya sehingga memungkinkan pemberontak Libya berhasil menggulingkan rezim Muammar Gaddafi.


Para pejabat mengatakan semua operasi NATO akan berakhir Senin tengah malam. Misi pengeboman pasukan aliansi telah berhenti segera setelah kematian Gaddafi awal bulan ini tetapi tetap mempertahankan patroli udara biasa.

Pejabat NATO menyatakan pesawat tempur mereka melakukan 9.600 serangan di tujuh bulan terakhir, dan menghancurkan sekitar 5.900 sasaran militer.

Dewan Keamanan PBB memberikan izin penyerangan NATO ke Libya pada Maret lalu dalam upaya untuk melindungi warga sipil yang terjebak dalam perang saudara. (fq/ap)

Sumber: http://www.eramuslim.com

Thursday, October 27, 2011

Pelajaran Bagi Para Penguasa

Gaddafi memberikan julukan dirinya dengan : "Raja di Raja". Berkuasa selama 42 tahun. Kekayaannya mencapai $ 160 miliar dollar. Anak-anaknya, dan keluarganya ikut berkuasa. Libya menjadi identik dengan Gaddafi, anaknya, dan keluarganya. Selama 42 tahun berkuasa, dan dengan minyak melimpah, tak dapat mengubah hidup rakyatnya. Tetap terbelakang.


"Raja di Raja", akhirnya, dikuburkan sebelum fajar, pukul 05.00 waktu Libya, di padang gurun, dan dirahasiakan. Penguburan jenazahnya dilakukan sesudah lima hari tewas ditembak.

Selama lima hari itu, jenazah Gaddafi itu dipertontokan kepada kalayak di sebuah supermarket, di Misrata. Jenazah Gaddafi dibaringkan begitu saja diatas matras di ruang pendingin, yang digunakan sebagai penyimpanan daging.

Selama lima hari itu jenazah Gaddafi menjadi tontotan rakyatnya. Begitulah nasib Gaddafi. Kematiannya menjadi semacam katarsis bagi rakyatnya di zaliminya selama berkuasa.

Akhir hidup "Raja di Raja" sangat tragis dan hina. Gaddafi ditangkap di gorong-gorong, digelandang, dipukuli, dijambak rambutnya, ditendang hingga terjatuh, kemudian ditembak.

Padahal, Gaddafi sudah menghiba kepada yang menangkapnya, memohon jangan diperlakukan dengan kasar, disakiti, dan diberikan hak hidup. Tetapi, mereka sudah tidak peduli lagi, dan ketika Gaddafi itu terjatuh, ditembak kepalanya.

Penguburan Gaddafi menjadi perdebatan dikalangan pejabat Dewan Transisi Nasional (NTC), di mana Gaddafi itu dimakamkan? Sebagian menginginkan agar Gaddafi itu dimakamkan di pekuburan para agresor atau musuh rakyat Llibya, di dekat kota Misrata. Kuburan para agresor itu, adalah para loyalis Gaddafi yang tewas dalam pertempuran di Misrata. Tetapi, rakyat di Misrata menolak jenazah Gaddafi dikubur di Misrata.

Namun, sikap yang paling jelas, terkait dengan jenazah Gaddafi adalah Mufti Libya, Sheikh Shadiq al-Gariyani, bagaimana dalam memperlakukan jenazah Gaddafi. Sheikh Al-Gariyani, berfatwa melarang melakukan shalat jenazah atas jasad Gaddafi di masjid atau melakukan shalat ghaib atas jenazah mantan penguasa Libya itu di manapun di muka bumi ini. Itulah status Gaddafi.

Sheikh Abdullah Azzam menegaskan bahwa Gaddafi itu kafir, menjadi musuh umat Islam. Ketika berlangsung aksi-aksi protes, dan terus berjatuhan korban tewas, Sheikh Yusuf al-Qardawi, menfatwakan, agar siapa saja yang dekat dengan Gaddafi membunuhnya. Fatwa al-Qardawi itu disampaikan saat shalat Jum'at di Qatar.

Di dalam al-Qur'an, sangat tegas Allah Azza Wa Jalla menyampaikan larangan membunuh manusia, tanpa dasar yang haq. Lalu, berapa kaum Muslimin dibunuh oleh Gaddafi selama berkuasa 42 tahun?

Allah Azza Wa Jalla memberikan berbagai bentuk kenikmatan kepada manusia, salah satunya berupa kekuasaan, dan hendaknya kekuasaan itu digunakan dalam rangka taat dan tunduk kepada Allah Rabbul Alamin. Bukan menyombongkan diri. Kekuasaan yang dimilikinya hendaknya tetap dalam rangka bersyukur kepada Rabbul Alamin, bukan kemudian berbuat kufur dan durhaka atas nikmat-Nya.

Bahkan suatu ketika "Raja di Raja" Gaddafi menjadi imam shalat, usai membaca al-Fatihah, kemudian membaca surah al-Ikhlas. Gaddafi, tidak membaca, "kull" (katakanlah Muhamamd), tetapi dia langsung membaca: "Allahu ahad", sampai akhir ayat. Begitulah sikap Gaddafi.

Gambaran pandangannya dan sikapnya terhadap Islam, sudah sangat jelas, dan selama berkuasa 42 tahun, tidak mau menegakkan sistem Islam, dan berhukum dengan hukum Islam. Gaddafi menegakkan sistem "la diniyah" alias sekuler, semuanya tertera dengan sangat gamblang dalam "Buku Hijau" nya itu.

Mungkin nasib Gaddafi hanya bisa disamakan dengan mantan diktator Hongaria, Ceausescu, yang ketika berlangsung revolusi di Hongaria, di tangkap, kemudian ditembak bersama isterinya, sampai darah dari kepalanya muncrat. Dalam tayangan telivisi itu, bagaimana Ceasusescu, mengakhiri hidupnya dengan sangat tragis.

Semoga peristiwa yang jauh dari Indonesia, di dunia Arab dan Afrika Utara itu, bisa menjadi 'itibar (pelajaran) bagi para penguasa di manapaun, agar mereka tidak lupa, ketika berkuasa, dan menyakiti rakyat, serta meninggalkan rasa syukur.

Bahwa kekuasaan itu hakekatnya pemberian dari Allah Azza Wa Jalla, yang seharusnya dijalankan dengan penuh amanah, dan tidak semena-mena. Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com

Hilangnya Hegemoni Amerika di Dunia Arab


Secara tiba-tiba Presiden Barack Obama mengumumkan berakhirnya perang di Irak. Pengumuman Obama itu, menimbulkan reaksi dikalangan internal pemerintahan Obama, termasuk Menteri Pertahanan Leon Panetta, yang menilai terlalu cepat pengumuman itu. Tetapi, diakui oleh Panetta, keputusan politik Obama itu, terkait pemotongan anggaran bagi Pentagon, yang sangat signifikan, yang bertujuan mengurangi defisit anggaran.

Pemerintahan Irak yang dipimpin Al-Maliki dibawah pengaruh Syiah, yang dipimpin Muqtada al-Sadr, dan memperlihatkan sikapnya tidak bersahabat dengan Amerika Serikat. Jadi invasi Amerika Serikat ke Irak, yang banyak menimbulkan korban, tidak menghasilkan tujuan yang ingin dicapai oleh Amerika Serikat. Justru Amerika Serikat kehilangan hegemoni diwilayah itu.

Perlahan-lahan Amerika Serikat mulai kehilangan pengaruh dan hegemoninya di dunia Arab. Pengaruh Amerika Serikat dikawasan itu terus memudar. Tidak memiliki pengaruh signifikan lagi. Ini bersamaan dengan perubahan politik yang luas di dunia Arab dan Afrika Utara. Di mana sejak berlangsungnya revolusi yang mula-mula terjadi di Tunia, Februari lalu, dan terus menjalar ke seluruh dunia Arab dan Afrika Utara.

Revolusi di dunia Arab dan Afrika Utara itu, menimbulkan dampak yang luas, terutama terjadinya sirkulasi kekuasaan. Pergantian dari rezim sebelumnya kepada pemerintahan baru, yang berbeda coraknya.

Sekarang rezim-rezim diktator yang selama ini menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan Barat, satu-satu berguguran. Digantikan rezim yang baru melalui proses pemilihan. Seperti yang terjadi di Tunisia.

Masalahnya, pemerintahan yang baru, bukan lagi rezim-rezim yang diktator, dan memerintah dengan satu tangan. Tetapi, rezim baru bercorak demokratis, dan mengakomodasi banyak kepentingan, serta tidak lagi sistem pengambilan keputusan ada di satu tangan.

Selain itu, corak pemerintahan baru di dunia Arab dan Afrika Utara itu, memiliki warna ideologi berbeda dengan rezim sebelumnya. Seperti sekarang terjadi di Tunisia dan Libya, kemungkinan Mesir. Di mana kaum Islamis memenangkan pemilihan. Mereka belum tentu dapat menjadi perpanjangan tangan bagi kepentingan Barat. Apalagi, Barat selama ini, terlalu memanjakan Israel. Menjadikan rezim baru di dunia Arab dan Afrika Utara, yang sudah berubah itu, kemungkinan sangat apriori terhadap Barat.

Meskipun, serangkaian langkah yang dijalankan oleh kebijakan Amerika Serikat dan Eropa, mencoba memanfaatkan dengan mendukung gerakan revolusi dan protes di dunia Arab dan Afrika Utara itu, sebagai sebuah siasat, agar mereka tetap mempunyai pengaruh dengan rezim baru, khususnya bercorak Islam.

Lebih-lebih rakyat di dunia Arab dan Afrika Utara, sudah sangat trauma dengan peranan Amerika Serikat dan Eropa, terus-menerus mendukung rezim-rezim diktator dalam kurun waktu sangat panjang. Zine Al Abidin ben Alli, Mubarak, Ali Abdullah Saleh, Gaddafi, Raja Abdulah (Saudi), Raja Abdullah (Jordania), mereka adalah rezim sangat repressif dan menjadi perpanjangan tangan Barat.

Sekarang, seperti langkah-langkah Turki mengusir Duta Besar Israel dari Ankara, dan memutuskan semua tingkat hubungan bilateral dengan Israel itu, menunjukkan bahwa pengaruh Israel dan Amerika sudah menurun. Langkah Turki memberikan inspirasi terhadap dunia Arab dan Afrika Utara, dan mereka ingin lebih bersikap independen.

Bagaimana ketika di Tunisia yang memenangkan pemilihan Partai Islam An-Nahdhah, di Mesir yang memenangkan Partai Keadilan dan Kebebasan, dan Libya menjadi negara Islam, seperti yang dinyatakan oleh Ketua Dewan Transisi Nasional, Mustafa Abdul Jalil? Kemudian, di Yaman, Ali Abdullah Saleh juga tersingkir, dan digantikan kekuatan Islam, seperti Partai Ishlah? Kekuatan Islam di Syria yang dipelopori Gerakan Islam (Sunni), terutama yang menjadi lawan politik rezim Alawiyyin (Shia), semakin menampakkan pengaruhnya. Ini semua akan berdampak terhadap hegemoni Amerika Serikat.

Perubahan di dunia Arab dan Afrika Utara itu, tidak hanya berdampak terhadap hilangnya hegemoni Amerika Serikat, tetapi juga "warning" bagi Israel, seperti yang dikemukakan oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, saat bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, yang mengatakan, bahwa Israel akan semakin terisolasi, jika Israel tidak segera mengambil langkah menuju perdamaian.

"Israel tidak akan survive menghadapi gelombang perubahan di dunia Arab dan kebangkitan Islam", ujar Leon Panetta.

Aksi penyerbuan Kedutaan Israel di Cairo, Mesir, yang begitu hebat, dan kemudian membakar sebagian gedung itu, menandai atmoshfir (suhu) politik di duni Arab sedang berubah. Ini dampaknya akan semakin memojokkan posisi Amerika Serikat dalam percaturan politik di kawasan itu.

Apalagi, pemerintahan baru, yang lahir, sangat berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, yang lebih bercorak Islam, dan semakin beragam dalam sistem pengambilan keputusan nantinya.

Amerika Serikat dan sekutunya Israel, harus mempertimbangkan kembali posisinya di tengah-tengah dunia Arab yang sudah berubah, jika masih ingin mempunyai mitra dengan rakyat dan gerakan-gerakan Islam di dunia Arab dan Afrika Utara. Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com

Dapatkah Libya Menjadi Negara Islam ?

Semua negara Arab dan Afrika Utara mengalami perubahan pollitik, terjadi sirkulasi (pergantian) kekuasaan. Para penguasa lama yang sudah berkuasa dalam kurun waktu yang panjang, akhirnya mereka harus turun. Diturunkan rakyatnya.

Tunisia, Mesir, dan Libya telah terjadi transformasi kekuasaan, dan sekarang memasuki fase baru. Dari rezim-rezim yang otokratis ke arah demokrasi. Pemilu menjadi agenda kedua setelah terjadi perubahan politik, dan dilanjutkan dengan penyusunan konstitusi baru.

Persoalannya bagaimana corak pemerintahan yang datang di sejumlah negara Arab, di masa yang akan datang. Dapatkah kekuatan Islam menjadi alternatif baru?


Di hampir semua negara Arab dan Afrika Utara, selama berkuasanya rezim-rezim yang otokratis, sistem yang berlaku adalah sistem sekuler. Kekuatan Islam yang ada selalu ditindas, dan tidak diberi kesempatan oleh rezim yang berkuasa. Sampai terjadi perubahan politik, melalui sebuah revolulsi dan pemberontakan bersenjata seperti yang terjadi di Libya.

Selama rezim-rezim otokratis berkuasa, yang hidup dan eksis adalah kekuatan politik sekuler, yang memang menjadi perpanjangan tangan rezim. Mereka menjadi alat rezim yang berkuasa, sembari menindas kekuatan Islam. Nilai-nilai Islam direduksi. Sampai ke titik nol. Rezim-rezim yang berkuasa di dunia Arab dan Afrika Utara itu, menolak dan memerangi prinsip-prinsip Islam, yang diperjuangkan oleh Gerakan Islam.

Sekarang berlangsung pemilihan di Tunisia, Mesir, dan ke depan Libya, juga akan melangsungkan pemilihan.

Tentu, persoalan yang paling pokok, adakah kekuatan sekuler dan Barat, yang sekarang terlibat dalam perubahan memberikan ruang secara "fair" bagi Gerakan Islam, memberlakukan sistem Islam?

Di Tunisia kekuatan kaum sekuler melalui partai-partai politik, menyerang Partai An-Nahdhah, sebagai kekuatan teroris. Menuduh Rashid Ghannaoushi sebagai ancaman, dan itu mereka lakukan melalui kampanye. Bahkan, di tengah-tengah berlangsungya pemungutan suara pun, sejumlah anggota dari partai sekuler, meneriakkan cemoohan kepada Ghannoushi, agar kembali ke London, dan menyebutnya sebagai teroris.

Di Mesir pertarungan lebih sengit antara kekuatan Islamis dengan sekuler. Mereka menolak kekuatan politik Islamis, yang sekarang ikut dalam kontes pemilu, yang diwakili Partai Keadilan dan Kebebasan, yang didirikan Jamaah Ikhwanul Muslimin, di Mesir. Kaum sekuler yang diwakili Partai Wafd, menuduh Partai Keadilan dan Kebebasan sebagai ancaman masa depan Mesir.

Konflik Islam dan Kristen yang akhir-akhir berlangsung di Mesir, hanyalah sebuah "cara" (uslub), kekuatan-kekuatan yang ingin mendiskriditkan kekuatan Islam, yang dituduh tidak toleran dan mengancam golongan minoritas. Karena itu, di Mesir suhu politik meningkat menjelang pemilu.

Tentu, yang sangat menarik pernyataan Ketua Dewan Transisi Nasional (NTC) Mustafa Abdul Jalil, yang menegaskan, bahwa Tunisia bangsa Muslim, dan akan menegakkan syariah Islam, termasuk yang terkait dengan poligami", cetusnya. Jalil, menambahkannya, "Akan membatalkan semua aturan dan hukum yang bertentangan dengan hukum Islam", tegasnya.

Kekuatan sekuler yang ada di semua negara-negara Arab, dibelakangnya adalah Barat, yang mereka mempunyai kepentingan yang dalam di negeri-negeri Muslim. Sejak penjajahan mereka menjelang abad ke l9, sampai sekarang mereka tidak ingin melepaskan hegemoninya, dan masih terus akan mencengkeram kaum Muslim di dunia Islam.

Kaum sekuler menjadi represantasi kepentingan Barat, yang ingin terus melanggengkan jajahan mereka di negeri-negeri Muslim. Dengan terus menjaga kaum sekuler, dan melenggengkan mereka, dan mereka akan tetap menjadi perpanjangan tangan kepentingan Barat.

Perang dan revolusi baru saja usai, tetapi sekarang memasuki tahapan baru, perang dan revolusi menghadapi kaum sekuler, yang menjadi perpanjangan tangan Barat.

Tentu perang dan revolusi dalam bentuk perang dan revolusi yang lain, sudah tidak menggunakan senjata, tetapi perang dan revolusi beralih di parlemen. Dapatkah kekuatan Islam mewujudkan keinginannya? Menjadikan Islam sebagai sistem dan aturan serta undang-undang di setiap negeri Muslim. Bukan lagi menegakkansistem, aturan dan undang-undang sekuler, yang merupakan alat kepentingan Barat.

Sayangnya, seringkali kekuatan-kekuatan Gerakan Islam jarang yang kuat dan istiqomah, memegang amanah Allah, menegakkan dinul haq, serta menegakkan sistem Islam, yang merupakan wujud dari "syumuliyatul Islam", kemudian mereka menyerah dan berlaku pragmatis, dan mengganti nilai-nilai Islam yang mulia itu dengan kekuasaan.

Mereka takut dengan kaum sekuler yang mendapatkan dukungan Barat, dan kemudian mereka merubah prinsip perjuangan mereka, dan menggantinya dengan prinsip-prinsip sekuler dan nasionalisme, yang sesuai dengan keinginan dan kepentingan Barat.

Maka, jika ini yang terjadi, seluruhnya akan menjadi sia-sia perjuangan mereka, yang sudah mengorbankan begitu banyak nyawa dan darah. Tetapi, kemudian para pemimpinnya menggadaikan prinsip-prinsip yang menjadi dasar perjuangan mereka.

Semoga kita masih dapat berharap kepada Gerakan Islam yang ada di seluruh negara Arab dan Afrika Utara, agar tidak larut dalam kekuasaan dan masuk dalam jeratan strategi kaum sekuler dan Barat.

Kemudian, partai-partai Islam seperti barang di "etalase", yang hanya indah dilihat, tetapi tidak memiliki arti apa-apa. Semoga. Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com