Showing posts with label Perang di Asia. Show all posts
Showing posts with label Perang di Asia. Show all posts

Wednesday, April 11, 2012

Barbarosa Pahlawan Islam yang Menjadi Propaganda Jahat Barat

Anda yang gemar membaca komik Asterix dan anda yang pernah menonton film ‘Pirates of The Carribean’, tentu ingat karakter jahat ‘Barbarossa’ bukan? Sejak zaman pertengahan, aneka macam karya fiksi Eropa dan Amerika biasa menggunakan nama Barbarossa untuk menamai karakter seorang penjahat –biasanya seorang bajak laut jahat. Makna negatif Barbarossa terus dipropagandakan hingga zaman sekarang, meski di dalam setting-setting yang berbeda. Tak ada asap jika tak ada api, kebiasaan para penulis fiksi Eropa dan Amerika ini tentu ada sebabnya.




The Barbarosa Brothers


Pada abad ke-15 masehi, di Laut Mediterania ada dua bajak laut bersaudara yang disebut The Barbarossa Brothers. Kedua tokoh ini menjadi legenda dalam dunia ‘per-bajak-laut-an’ dan merupakan tokoh bahari yang sangat ditakuti orang-orang Eropa pada zamannya. Kebiasaannya ialah membajak barang-barang berharga yang diangkut oleh kapal-kapal milik kerajaan-kerajaan Eropa yang melintasi Laut Mediterania. Awak kapal yang dibajak biasanya diberi dua pilihan; mati karena melawan atau hidup dengan menyerah secara sukarela.


Siapakah sebenarnya Barbarossa yang sangat ditakuti oleh orang-orang Eropa selama berabad-abad itu? Mengapa hingga zaman sekarang nama itu terus menghantui benak dan pikiran mereka?


Barbarossa bukanlah sebuah nama. Barbarossa merupakan kata dalam bahasa Latin –gabungan dari kata barber (janggut) dan rossa (merah). Jadi Barbarrossa berarti janggut merah. Barbarossa merupakan julukan yang diberikan oleh para pelaut Eropa kepada kakak-beradik Aruj dan Khairuddin dari Turki. Kedua kakak beradik ini hanyalah pelaut-pelaut biasa yang rutin berlayar di wilayah perairan Yunani dan Turki.


Awal Gerakan Barbarosa


Pada suatu hari, tanpa sebab yang jelas, kapal milik keluarga mereka diserang secara brutal oleh kapal militer Knight of Rhodes. Dalam peristiwa ini, adik bungsu Aruj dan Khairuddin tewas terbunuh. Aruj dan Khairuddin sangat terpukul dengan kematian adik bungsu mereka. Sejak saat itu, mereka melakukan aksi bajak laut kepada semua kapal-kapal militer milik kerajaan-kerajaan Kristen. Aksi-aksi mereka sangat menggemparkan dan membuat mereka ditakuti militer Kristen. Aruj dan Khairuddin pun kemudian dikenal sebagai The Barbarossa Brothers Pirates karena keduanya berjanggut merah.


Kaum Eropa menyebut Barbarossa sebagai bajak laut, meskipun tidak ada bendera hitam dan tengkorak yang menjadi simbol bajak laut. Bendera yang dipasang Aruj dan Khairuddin di kapal mereka adalah sebuah bendera berwarna hijau berisi kaligrafi doa Nashrun minallaah wa fathun qariib wa basysyiril mu’miniin, ya Muhammad, empat nama khulafaur rasyidin, pedang Zulfikar dan bintang segi enam Yahudi (Bintang David). Awak kapal yang dipimpin kedua bersaudara ini terdiri atas orang-orang Islam dari bangsa Moor, Turki, dan Spanyol, serta beberapa orang Yahudi.




Pada tahun 1492 M, Andalusia yang sejak tahun 756 M dikuasai oleh Daulah Khilafah Islamiyah, jatuh ke tangan Pasukan Salib yang terdiri atas pasukan gabungan Aragon dan Spanyol. Dalam peristiwa penaklukan Andalusia ini, jutaan orang Islam dan Yahudi tewas dibantai pasukan yang dipimpin Raja Ferdinand II dari Aragon.


Perjuangan Jihad Barbarosa


Peristiwa itu mengubah haluan misi dendam Aruj dan Khairuddin menjadi misi Jihad Islam. Bahu-membahu bersama sekelompok milisi bangsa Moor, mereka kemudian menyelamatkan puluhan ribu Umat Islam dari Spanyol ke Afrika utara (Maroko, Tunisia dan Aljazair). Kemudian mereka membangun basis pertahanan laut di Aljazair untuk menghadang gelombang serangan Pasukan Salib dari jalur Afrika Utara menuju Tanah Suci Palestina.


Khalifah Islam saat itu, Sulaiman I, mendengar cerita-cerita heroik Barbarossa bersaudara. Sulaiman I sangat kagum pada heroisme mereka. Karena prestasi mereka di lautan, akhirnya Sulaiman I mengangkat Aruj dan Khairuddin sebagai Kapudan Pasha (Panglima Angkatan Laut) Khilafah Islamiyyah untuk membenahi Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah yang amburadul.


Adu Domba Pihak Spanyol


Pada tahun 1518 Spanyol berhasil menghasut Amir kota Tlemcen (Tilmisan) untuk melancarkan pemberontakan kepada kepemimpinan Aruj. Aruj kemudian menyerahkan pemerintahan Aljazair kepada Khairuddin untuk sementara. Lalu ia memimpin pasukan untuk berangkat ke Tlemcen. Hati Aruj sangat pilu karena ia malah berperang dengan saudara sendiri sesama Muslim. Akibatnya ia kurang berkonsentrasi dan pasukannya kocar-kacir. Aruj sempat lolos, namun banyak pasukannya yang tertangkap. Karena hubungan emosionalnya dengan anak buahnya, Aruj kembali ke Tlemcen untuk bertempur dan ia gugur dalam pertempuran tersebut.


Dengan gugurnya Aruj, kepemimpinan Angkatan Laut Daulah Khilafah Islamiyah beralih ke tangan Khairuddin. Spanyol mengira bahwa era kejayaan Barbarossa di Laut Tengah telah berakhir. Lalu, dengan percaya dirinya, Spanyol mengirim 20.000 tentaranya ke Aljazair. Pertempuran hebat pun terjadi, namun Khairuddin berhasil menghajar pasukan laut tersebut.


Sejarah dan Kehebatan Pasukan Janissary


Guna meminimalisir ancaman dari negeri sekitar Aljazair, selain ancaman utama Spanyol, Khairuddin kemudian meminta kepada Khalifah Sulaiman I agar kekuasaan Amir Tunisia dan Tlemcen dialihkan kepadanya. Sulaiman I pun setuju. Pada 1519, Khalifah mengangkat Khairuddin sebagai beylerbey (Bakhlair Baik) atau wakil Khalifah untuk wilayah Aljazair dan sekitarnya. Kemudian Khairuddin juga ditugasi memimpin pasukan-pasukan elit Daulah Khilafah Islamiyah, Pasukan Janissary.


Dalam masa kepemimpinan Khairuddin, Pasukan Janissary berhasil melakukan banyak penyelamatan Umat Islam di Andalusia. Tercatat mereka melakukan 7 kali pelayaran dengan 36 buah kapal untuk mengangkut Umat Islam Spanyol yang diburu bagai hewan oleh Ferdinand II dan Pasukan Salibnya.


Pertengahan dekade 1520-an, Pasukan Darat Janissary yang dipimpin langsung Khalifah Sulaiman I berhasil memenangkan semua pertempuran darat. Pada saat bersamaan, Pasukan Laut Janissary di bawah pimpinan Khairuddin juga berhasil mengontrol lalu lintas pelayaran di Laut Tengah sepenuhnya. Kondisi ini membuat Pasukan Salib Kristen Eropa menjadi pusing tujuh keliling.


Awal Mula Minuman Capucchino


Dalam suasana putus asa, pada tahun 1529 di pulau Penon, Spanyol menembakkan meriam ke menara masjid saat Adzan sedang berkumandang. Maka terjadilah peperangan hebat di Penon dan setelah 20 hari pulau tersebut berhasil dikuasai kembali oleh Khairuddin. Sementara di daratan, Sulaiman I membombardir Wina (Ibukota Austria) dengan dua kali serangan namun keduanya gagal. Pasukan Islam yang mundur dari pertempuran meninggalkan beberapa karung kopi yang kemudian mengubah aturan Paus Roma yang sebelumnya mengharamkan minuman yang biasa diminum kaum muslim itu. Kemudian mereka menyebut minuman itu sebagai dengan nama cappuccino.


Pada tahun 1535 Pasukan Salib Gabungan Spanyol dan Genoa di bawah pimpinan Charles V dan Andrea Doria (Knight of Malta) menyerang Tunisia dengan kekuatan 25.000 orang pasukan dan 500 kapal. Pertempuran pun berjalan tidak imbang hingga Tunisia pun jatuh ke tangan Spanyol. Pada tahun-tahun selanjutnya, Khairuddin Sang Barbarossa mengalami banyak kekalahan. Namun ia berhasil menduduki kepulauan Beleares dan merampas kapal-kapal Portugis dan Spanyol di selat Gibraltar.


Akhir Gemilang Barbarosa Sebelum Tutup Usia


Tahun 1538, Pasukan Salib Gabungan Italia-Spanyol menyerang Preveza yang saat itu merupakan pelabuhan penting di Laut Tengah. Andrea Doria memimpin 40 kapal dan Barbarossa hanya memimpin 20 kapal. Namun dengan kecerdikannya, Barbarossa memecah armadanya ke tiga arah dan menjebak Pasukan Andrea Doria di tengah untuk kemudian membombardir armada Andrea Doria habis-habisan. Andrea Doria dan armada lautnya pun lari dari pertempuran. Walau begitu, Khairuddin tak mengejarnya karena ia tak ingin berperang di laut lepas, mengingat kapal-kapal armada laut Spanyol mempunyai peralatan yang lebih canggih. Apalagi ia hanya memimpin 20 kapal.


Tiga tahun kemudian, Pasukan Salib Gabungan Spanyol-Genoa kembali menyerang Aljazair dengan kekuatan 200 kapal. Mereka sengaja melancarkan serangan di luar musim berlayar, untuk menghindari pertemuan dengan Pasukan Barbarossa. Rakyat Aljazair di bawah komando Hasan Agha berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan Aljazair. Charles V dan Andrea Doria yang memimpin serangan tak mengira bahwa pertahanan dan strategi perang Hasan Agha sangat matang, sehingga armadanya pun kacau-balau. Ketika itu pula tiba-tiba badai laut dahsyat menghantam Laut Mediterania. Andrea Doria dan Charles V berhasil selamat, dan kembali ke negerinya dengan kekalahan pahit.


Tahun 1565, dalam usia senja, Khairuddin Barbarossa memimpin pasukan untuk merebut Malta dari tangan Knight of St. John. Namun dalam pertempuran itu, Khairuddin gugur. Kemudian Khairuddin dimakamkan di Istanbul. Di dekat kuburannya didirikan masjid dan madrasah untuk mengenangnya. Hingga kini makam tersebut masih terawat untuk menjadi bukti kepahlawanan Khairuddin alias Barbarossa yang namanya masih ditakuti bangsa Eropa hingga zaman sekarang.


Sumber: http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=30615

Partai-partai Politik Pakistan Tolak Rute Pasokan Nato Dibuka Kembali

Partai-partai politik Pakistan sekali lagi memperingatkan rencana pemerintah untuk membuka kembali rute pasokan NATO, dengan mengatakan tindakan itu hanya akan serangan teror semakin meningkat, laporan Press TV. 




Menurut pimpinan Liga Muslim Awami (AML) Syaikh Rasyid, serangan teror "akan dilanjutkan jika jalur suplai NATO dibuka kembali," dan juga bisa mengancam Punjab. 


Para pemimpin Tehrik-e-Insaf Pakistan (PTI), serta partai politik lainnya menyuarakan penentangan mereka, mengatakan langka tersebut hanya akan menambah kerusuhan di Pakistan. Laporan ini datang pada saat pemerintah Pakistan sedang mempertimbangkan untuk membuka kembali rute pasokan NATO yang sebelumnya diblokir di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat. 


Jamat-e-Islami serta aliansi partai oposisi lainnya, Dewan Difa-e-Pakistan, juga telah berulang kali memperingatkan Islamabad untuk tidak melakukan langkah tersebut. 


November lalu, Islamabad menutup rute pasokan setelah serangan udara AS menewaskan sedikitnya 24 tentara Pakistan di dekat perbatasan Afghanistan. (fq/prtv) 


Sumber: http://www.eramuslim.com

Kofi Annan Serukan Akhiri Kekerasan di Suriah Tanpa Prasyarat

Utusan PBB dan Liga Arab untuk Suriah Kofi Annan menyerukan diakhirinya kekacauan selama satu tahun di negara itu "tanpa prasyarat."




"Saya percaya seharusnya tidak ada prasyarat untuk menghentikan aksi kekerasan," kata Annan dalam konferensi pers, Selasa kemarin (10/4). Mantan Sekjen PBB itu membuat pernyataan setelah mengunjungi kamp pengungsi di perbatasan Suriah di provinsi Turki selatan Hatay. 


"Saya sekali lagi menyerukan pemerintah Suriah dan oposisi Suriah untuk menghentikan kekerasan sesuai (dengan) rencana," kata Annan, mengacu pada rencana enam poin yang ia usulkan ke Damaskus pada bulan Maret lalu.


Pada tanggal 5 April juru bicara pemerintah Suriah Annan Ahmad Fawzi mengatakan, "Apa yang kami harapkan pada 10 April adalah bahwa pemerintah Suriah akan menyelesaikan penarikannya dari pusat penduduk."


Penarikan ini merupakan bagian dari rencana enam poin. Menlu Suriah Walid al-Muallem juga mengatakan pada hari Selasa kemarin, "Kami telah menarik pasukan dan unit tentara dari beberapa provinsi Suriah." Muallem membuat pernyataan dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Moskow. (fq/prtv)


Sumber: http://www.eramuslim.com

Mahasiswa Pakistan Kecam AS yang Janjikan Hadiah Untuk Penangkapan Hafiz Said



Ratusan mahasiswa Pakistan mengadakan demonstrasi menentang AS di Karachi, memprotes sikap Washington yang menjanjikan hadiah untuk pimpinan sebuah kelompok Islam Pakistan, Press TV melaporkan.  


Para mahasiswa turun ke jalan pada hari Selasa kemarin (10/4) mengutuk tindakan AS terhadap pendiri dan pimpinan Jamaat-ud-Dawa, Hafiz Muhammad Said. Dalam aksi para pengunjuk rasa mahasiswa membakar bendera AS dan menuntut permintaan maaf dari Washington karena menghina warga negara Pakistan. 


Mereka percaya bahwa Washington sedang mencoba untuk membalas terhadap Said untuk oposisi publiknya menentang serangan pesawat tak berawak AS di wilayah Pakistan serta rencana pembukaan kembali rute Pakistan untuk pasokan NATO menuju ke Afghanistan. 


Pada tanggal 2 April lalu, pemerintah AS mengumumkan bahwa mereka akan menawarkan hadiah sebanyak 10 juta dolar untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Said, yang telah dituduh mendalangi serangan Mumbai November 2008.


Serangan menyebabkan sekitar 160 orang tewas. Islamabad mengatakan Said telah dibersihkan oleh pengadilan Pakistan akan keterlibatannya dalam serangan itu.(fq/prtv)


Sumber: http://www.eramuslim.com

Sy'iah, Holocaust dan Clash of Civilization

MESKI KEKEJAMAN pemerintahan syi’ah di Iran dan di Suriah sudah sedemikian nyata, para misionaris syi’ah di Indonesia masih saja berusaha meyakinkan umat Islam Indonesia, bahwa syi’ah itu agama damai, syi’ah itu salah satu madzhab dalam Islam yang diakui dunia internasional, bahwa syi’ah itu Islam juga. 




Terhadap kekejaman syi’ah di Suriah, kalangan syi’ah cenderung membela diri, bahwa yang dibunuhi itu adalah rakyat yang memberontak kepada pemerintah, bahwa Bashar Assad itu bukan penganut syi’ah, dan sebagainya. Selain itu, para misionaris syi’ah juga cenderung mencari “pihak ketiga” yang bisa dijadikan musuh bersama yaitu paham wahabi. Menurut para misionaris syi’ah, paham wahabi bahkan memposisikan syi’ah dan sunni (ahlus sunnah) sama-sama sesat. Mereka juga mengatakan, sebagaimana pernah dikatakan Zen Al-Hady narasumber Radio Silaturahim (Rasil), Kerajaan Saudi yang berpaham Wahabi itu bahkan memposisikan ormas NU sebagai berpaham sesat.


Menurut misionaris syi’ah, musuh umat Islam bukanlah syi’ah karena syi’ah bagian dari Islam. Tetapi, selain paham wahabi musuh Islam adalah: mereka yang membuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw; penulis buku ayat-ayat setan dan yang melindungi penerbitan buku itu; mereka yang menganggap Islam sebagai agama kekerasan dan barbar; mereka yang menguasai Masjidil Aqsha, kiblat pertama kaum muslimin dan menjadikannya sebagai ibu kotanya. Begitulah propaganda misionaris syi’ah, yang antara lain bisa ditemukan pada sebuah surat terbuka berjudul “Surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi kepada ulama Wahabi” yang bisa ditemui di situs penganut syi’ah Alwi Husein (alwihusein.multiply.com) Zen Al-Hady salah satu narasumber Radio Silaturahim (Rasil) juga kerap mengutip materi propaganda khas syi’ah tadi dalam berbagai kesempatan. Tapi alhamdulillah umat Islam tidak begitu mudah percaya dengan propaganda tersebut. 


Musuh-musuh Islam seperti disebutkan oleh Ayatullah Makarim Syirazi melalui surat terbukanya di atas, memang benar. Namun syi’ah pun bagian dari musuh Islam. Memerangi syi’ah bukanlah memerangi sesama muslim, karena syi’ah apapun sektenya, mereka kini sudah memerangi Islam. Bahkan syi’ah lebih dekat diposisikan dengan pihak harby. Akhir-akhir ini para misionaris syi’ah menyebarluaskan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi, boleh jadi karena mereka panik dan tidak punya cara lain untuk menutupi kekejaman rezim syi’ah di Suriah. Pada surat terbuka itu antara lain dituliskan, seolah-olah pernah ada pertemuan aneh dan langka di sebagian negara-negara Islam, yang berlangsung pada tanggal 16 Dzul Qa’dah 1427 H. 


 Konon, sejumlah 38 ulama dan dosen wahabi dari Universitas Ummul Qura dan Universitas Malik Su’ud, serta ulama dan dosen dari sebagian kecil wilayah Arab Saudi lainnya, menandatangani sebuah deklarasi yang berisi fatwa untuk membunuhi orang-orang syi’ah di Irak, bahkan orang-orang syi’ah di seluruh dunia. Alasannya, kata Ayatullah Makarim Syirazi, para ulama dan dosen wahabi itu menuduh bahwa orang-orang syi’ah itu rafidhi safawi yang merupakan sekutu Amerika dan kerap membunuhi orang Islam. Benarkah adanya deklarasi berisi fatwa membunuhi orang-orang syi’ah itu adalah sesuatu yang bisa dipertangung jawabkan? Yang pasti saat ini justru umat Islam-lah yang jadi korban pembantaian rezim syi’ah di Suriah. Juga, di Iran. Kalau toh deklarasi itu memang ada, tentu saja tidak lantas menganulir bahwa syi’ah itu secara akidah memang bertentangan dengan Islam. 


Jangan membodohi umat Islam. Dalam salah satu alineanya, surat terbuka yang konon berasal dari Ayatullah Makarim Syirazi mengatakan: “Apakah Nabi Muhammad saw tidak pernah memberikan aturan dalam berperang bahwa ketika berperang melawan kaum musyrikin, anak-anak dan wanita jangan dibunuh. Bagaimana mungkin kelompok dari kalian melupakan aturan Islam yang sangat manusiawi ini, ketika menghadapi sekelompok dari kaum muslimin? Dengan teror, kalian membantai semuanya.” Kecaman Ayatullah Makarim Syirazi di atas, sepantasnya ditujukan kepada rezim syi’ah di Suriah, dan sama sekali tidak cocok ditujukan kepada umat Islam Indonesia, apalagi umat Islam di Suriah yang dizalimi dan dianiayaya rezim syi’ah nushairiyah di negerinya sendiri. Sesuatu yang tidak cocok itu ternyata oleh para misionaris syi’ah dijadikan materi propaganda, setidaknya untuk mengalihkan perhatian umat Islam atas kekejaman rezim syi’ah di Suriah yang berlangsung cukup lama. 


Mungkin mereka bermaksud memberikan kesan bahwa orang-orang syi’ah itu juga dizalimi oleh paham wahabi sebagaimana ditulis dalam surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi di atas. Gaya seperti itu persis gaya Yahudi dengan menciptakan public opinion yang terkenal dengan sebutan holocaust (pembasmian). Melalui public opinion itu bangsa Yahudi ingin memposisikan dirinya sebagai bangsa yang teraniaya akibat praktik genosida (pemusnahan suatu bangsa) yang dilakukan Nazi Jerman dengan tokoh utamanya Hitler. Genosida terhadap bangsa Yahudi yang berlangsung antara tahun 1933-1945 itu, konon menyebabkan sejumlah 6 juta orang Yahudi menjadi korban pembunuhan rezim Hitler. Belakangan, holocaust disangkal oleh sejumlah ilmuwan seperti Roger Garaudy, Professor Robert Maurisson, Ernst Zundel, David Irving, dan sebagainya. Akibatnya, mereka harus mendekam di penjara. 


Bahkan, korban kekejaman Hitler yang selama ini dipatok pada angka 6 juta, sebenarnya jauh lebih kecil, yaitu di bawah angka satu juta jiwa. Angka itu (di bawah satu juta jiwa) bagi kita umat Islam yang menjunjung tinggi syari’at Allah dan kemanusiaan, tetap masih sangat banyak. Namun yang jauh lebih banyak lagi adalah kebohongan Yahudi yang membentuk opini bahwa bangsa Yahudi korban kekejaman Hitler berjumlah 6 juta jiwa. Sehingga, dengan alasan itu mereka merasa ‘berhak’ membunuhi bangsa Palestina, dan orang-orang Islam pada umumnya di seluruh permukaan bumi. Padahal, ketika Yahudi dikejar-kejar rezim Hitler, mereka justru berlindung di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. 


Selain holocaust, gaya berkelit ala Yahudi juga bisa ditemukan pada wacana benturan antarperadaban yang dipopulerkan oleh Samuel Phillips Huntington (kelahiran New York City, 18 April 1927) setidaknya sejak 1998, satu dekade sebelum ia akhirnya meninggal dunia pada 24 Desember 2008. Wacana itu ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia). Intinya, setelah komunisme yang menjadi musuh utama Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada umumnya, tumbang, maka musuh berikutnya adalah peradaban Islam. Menurut Huntington, di antara berbagai peradaban besar yang tetap tegak hingga kini adalah peradaban Islam. Sebagai peradaban yang terus tegak, Islam dinilai menjadi peradaban yang paling berpotensi mengancam peradaban Barat. 


Wacana benturan antarperadaban yang diusung Huntington itu bisa merupakan fakta sahih, atau analisa semata, atau justru merupakan sebuah skenario politik Barat (Amerika dan sekutunya), untuk mempunyai landasan bertindak memerangi Islam. Sebagaimana sudah diketahui umum, setiap kebijakan politik Amerika Serikat pastilah dilahirkan oleh kepentingan politik Yahudi ‘perantauan’ yang berada di Amerika Serikat dan di belahan negara Barat lainnya. Apalagi, kemudian wacana benturan antarperadaban Huntington itu tak berapa lama mendapat pembenaran melalui kasus WTC 911 yang terjadi pada 11 September 2001, yang konon dilakukan oleh organisasi teroris Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden, yang merupakan salah satu anak keluarga bin Laden yang selama ini menjadi mitra bisnis AS. Osama dan Al-Qaeda kemudian menjadi icon peradaban Islam yang menggoyang peradaban Barat. Al-Qaeda regional dan lokal pun muncul, termasuk di Indonesia. 


Sejumlah tokoh atau oknum JI (Jama’ah Islamiyah) yang keberadaannya disangkal oleh Abu Bakar Ba’asyir, pun turut melaksanakan ‘serangan’ terhadap peradaban Barat, antara lain berupa Bom Bali I, Bom Bali II, Bom JW Marriott dan sebagainya. Maka, sempurnalah alasan yang diperlukan untuk menjalakankan skenario menggempur peradaban Islam melalui perang melawan terorisme. Kemudian dalam rangka memerangi peradaban Islam yang dikesankan keras ala Al-Qaeda dan JI, muncullah JIL (Jaringan Islam Liberal) dan sejumlah tokoh anak wayang seperti Ulil, Musdah, Maarif, dan sebagainya. Belakangan muncul pula program deradikalisasi yang menguntungkan Said Agil Siradj. Fenomena inilah yang dimanfaatkan oleh kalangan syi’ah untuk dijadikan momentum menjual paham sesat syi’ah laknatullah. Misionaris syi’ah seperti Zen Al-Hadi narasumber Radio Silaturahim (Rasil) dan Jalaluddin Rakhmat dari IJABI, selalu menjadikan tindakan oknum JI sebagai contoh paham wahabi yang sebaiknya dijadikan musuh bersama umat Islam dan syi’ah. Daripada berpaham wahabi yang keras mendingan syi’ah. Daripada atheis mendingan syi’ah. Pernyataan itu seolah-olah benar padahal keliru. 


Selain menjadikan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi sebagai materi propaganda membela syi’ah, para misionaris paham sesat syi’ah laknatullah ini juga menjadikan sebuah foto editan untuk mengalihkan perhatian dan emosi umat Islam atas kekejaman rezim syi’ah di Suriah. Pada foto tersebut terlihat George Bush (Presiden AS sebelum Obama) sedang tempel pipi dengan Raja Arab Saudi. Selama ini George Bush dituding melakukan pembantaian terhadap satu juta muslim di Iraq, dan Raja Abdullah dari Saudi dituding menjadi sekutu George Bush dalam upaya pembunuhan itu. Peristiwa itu kalau benar terjadi, tidak akan pernah menganulir kesesatan syi’ah yang secara akidah bertentangan dengan umat Islam, tidak akan mengalihkan perhatian umat Islam terhadap kekejaman rezim syi’ah terhadap umat Islam di Suriah dan di Iran. 


Cara-cara di atas, yaitu menjadikan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi dan foto editan sebagai materi kampanye syi’ah mengalihkan perhatian dan emosi umat Islam terhadap kekejaman rezim syi’ah di Suriah, adalah perbuatan dungu bin tolol. Karena kesesatan syi’ah secara akidah, tidak bisa dianulir oleh praktik politik Saudi Arabia, dan sebagainya. Saudi mau runtang-runtung dengan AS dan sebagainya, itu urusan politik mereka. Dalam urusan akidah, umat Islam tetap konsisten menyatakan bahwa syi’ah tetap sesat dan dengan kejamnya sudah membunuhi jutaan ummat Islam dari dulu hingga sekarang. Padahal masalah membunuhi orang Muslim itu adalah perkara sangat besar, hingga menjadi urutan pertama diputuskannya di hari qiyamat sebelum perkara-perkara lainnya[i].


Sadarilah wahai para manusia yang mengaku Muslim bahkan tokoh namun kini bersuara membela syiah. Tidak takutkah kalian kelak di akherat akan diseret pula sebagai orang yang harus mempertanggung jawabkan sikapnya atas dukungan kepada golongan sesat syiah yang telah membunuhi Ummat Islam? 


Ilustrasi: aljazerah 


(haji/tede/nahimunkar.com)


Sumber: http://www.eramuslim.com

Monday, October 31, 2011

AS Mengetahui Adanya Penyiksaan di Penjara-penjara Afghanistan

Laporan terbaru menunjukkan bahwa para pejabat AS terus mengirim tersangka teroris ke pusat penahanan Afghanistan walaupun mereka memiliki pengetahuan sebelumnya tentang adanya pelanggaran terhadap tahanan yang terjadi di sana.


Washington terus mentransfer tahanan ke fasilitas yang dijalankan oleh dinas intelijen Afghanistan meskipun pejabat dari Departemen Luar Negeri AS, Central Intelligence Agency (CIA) dan militer AS telah menerima beberapa peringatan tentang adanya penyiksaan sistematis di penjara Afghanistan, The Washington Post melaporkan hari Minggu kemarin (30/10).

Salah satu pusat penahanan terkenal, terletak di dekat markas militer AS di Kabul, dikenal sebagai Departemen 124.

Fasilitas ini dijalankan oleh badan intelijen Afghanistan dan berisi hingga 40 tersangka terorisme.

Penyiksaan banyak terjadi di pusat tahanan tersebut, seorang tahanan mengatakan kepada PBB, menambahkan bahwa saking terkenalnya tempat penahanan itu orang-orang menyebutnya sebagai "neraka."

Tahanan dilaporkan mengalami penyiksaan, dipukul dan disetrum.

Menurut pejabat Afghanistan dan Barat yang akrab dengan penjara tersebut, pasukan Operasi Khusus AS menyerahkan tahanan ke Departemen 124, yang dibangun kembali pada tahun 2010 oleh uang Amerika dan telah dikunjungi secara teratur oleh pejabat CIA.

Pada bulan Agustus, PBB secara terbuka mengungkapkan adanya "penyiksaan sistematis" terhadap para tahanan di fasilitas penjara Afghanistan.

Pemerintah AS telah menggunakan fasilitas untuk menginterogasi tersangka terortingkat tinggi Taliban dan al-Qaidah.(fq/prtv)

Sumber: http://www.eramuslim.com

Mobil Tanker Minyak NATO Kembali Diserang Gerilyawan Pakistan


Gerilyawan Pakistan telah menyerang sebuah mobil tanker yang membawa bahan bakar untuk pasukan pimpinan Amerika di negara tetangga Afghanistan.

Mobil tanker minyak sedang dalam perjalanan dari Karachi ke kota Quetta Pakistan di barat daya provinsi Balochistan pada Minggu malam kemarin (30/10) ketika diserang.

Para gerilyawan Pakistan menembaki truk dan memaksa untuk berhenti, menculik pengemudi dan pembantunya dan dibawa lokasi yang tidak diketahui.

Ratusan pasokan truk NATO telah hancur di Pakistan selama beberapa tahun terakhir.

Pejuang Pakistan mengatakan serangan sebagai respon terhadap pembunuhan tidak sah pesawat tak berawak AS di zona suku Pakistan.

Serangan truk NATO telah mendorong para pejabat AS untuk mencari rute alternatif untuk mentransfer pasokan bagi pasukan asing di Afghanistan.(fq/prtv)

Sumber: http://www.eramuslim.com

Thursday, October 27, 2011

Hilangnya Hegemoni Amerika di Dunia Arab


Secara tiba-tiba Presiden Barack Obama mengumumkan berakhirnya perang di Irak. Pengumuman Obama itu, menimbulkan reaksi dikalangan internal pemerintahan Obama, termasuk Menteri Pertahanan Leon Panetta, yang menilai terlalu cepat pengumuman itu. Tetapi, diakui oleh Panetta, keputusan politik Obama itu, terkait pemotongan anggaran bagi Pentagon, yang sangat signifikan, yang bertujuan mengurangi defisit anggaran.

Pemerintahan Irak yang dipimpin Al-Maliki dibawah pengaruh Syiah, yang dipimpin Muqtada al-Sadr, dan memperlihatkan sikapnya tidak bersahabat dengan Amerika Serikat. Jadi invasi Amerika Serikat ke Irak, yang banyak menimbulkan korban, tidak menghasilkan tujuan yang ingin dicapai oleh Amerika Serikat. Justru Amerika Serikat kehilangan hegemoni diwilayah itu.

Perlahan-lahan Amerika Serikat mulai kehilangan pengaruh dan hegemoninya di dunia Arab. Pengaruh Amerika Serikat dikawasan itu terus memudar. Tidak memiliki pengaruh signifikan lagi. Ini bersamaan dengan perubahan politik yang luas di dunia Arab dan Afrika Utara. Di mana sejak berlangsungnya revolusi yang mula-mula terjadi di Tunia, Februari lalu, dan terus menjalar ke seluruh dunia Arab dan Afrika Utara.

Revolusi di dunia Arab dan Afrika Utara itu, menimbulkan dampak yang luas, terutama terjadinya sirkulasi kekuasaan. Pergantian dari rezim sebelumnya kepada pemerintahan baru, yang berbeda coraknya.

Sekarang rezim-rezim diktator yang selama ini menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan Barat, satu-satu berguguran. Digantikan rezim yang baru melalui proses pemilihan. Seperti yang terjadi di Tunisia.

Masalahnya, pemerintahan yang baru, bukan lagi rezim-rezim yang diktator, dan memerintah dengan satu tangan. Tetapi, rezim baru bercorak demokratis, dan mengakomodasi banyak kepentingan, serta tidak lagi sistem pengambilan keputusan ada di satu tangan.

Selain itu, corak pemerintahan baru di dunia Arab dan Afrika Utara itu, memiliki warna ideologi berbeda dengan rezim sebelumnya. Seperti sekarang terjadi di Tunisia dan Libya, kemungkinan Mesir. Di mana kaum Islamis memenangkan pemilihan. Mereka belum tentu dapat menjadi perpanjangan tangan bagi kepentingan Barat. Apalagi, Barat selama ini, terlalu memanjakan Israel. Menjadikan rezim baru di dunia Arab dan Afrika Utara, yang sudah berubah itu, kemungkinan sangat apriori terhadap Barat.

Meskipun, serangkaian langkah yang dijalankan oleh kebijakan Amerika Serikat dan Eropa, mencoba memanfaatkan dengan mendukung gerakan revolusi dan protes di dunia Arab dan Afrika Utara itu, sebagai sebuah siasat, agar mereka tetap mempunyai pengaruh dengan rezim baru, khususnya bercorak Islam.

Lebih-lebih rakyat di dunia Arab dan Afrika Utara, sudah sangat trauma dengan peranan Amerika Serikat dan Eropa, terus-menerus mendukung rezim-rezim diktator dalam kurun waktu sangat panjang. Zine Al Abidin ben Alli, Mubarak, Ali Abdullah Saleh, Gaddafi, Raja Abdulah (Saudi), Raja Abdullah (Jordania), mereka adalah rezim sangat repressif dan menjadi perpanjangan tangan Barat.

Sekarang, seperti langkah-langkah Turki mengusir Duta Besar Israel dari Ankara, dan memutuskan semua tingkat hubungan bilateral dengan Israel itu, menunjukkan bahwa pengaruh Israel dan Amerika sudah menurun. Langkah Turki memberikan inspirasi terhadap dunia Arab dan Afrika Utara, dan mereka ingin lebih bersikap independen.

Bagaimana ketika di Tunisia yang memenangkan pemilihan Partai Islam An-Nahdhah, di Mesir yang memenangkan Partai Keadilan dan Kebebasan, dan Libya menjadi negara Islam, seperti yang dinyatakan oleh Ketua Dewan Transisi Nasional, Mustafa Abdul Jalil? Kemudian, di Yaman, Ali Abdullah Saleh juga tersingkir, dan digantikan kekuatan Islam, seperti Partai Ishlah? Kekuatan Islam di Syria yang dipelopori Gerakan Islam (Sunni), terutama yang menjadi lawan politik rezim Alawiyyin (Shia), semakin menampakkan pengaruhnya. Ini semua akan berdampak terhadap hegemoni Amerika Serikat.

Perubahan di dunia Arab dan Afrika Utara itu, tidak hanya berdampak terhadap hilangnya hegemoni Amerika Serikat, tetapi juga "warning" bagi Israel, seperti yang dikemukakan oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Leon Panetta, saat bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, yang mengatakan, bahwa Israel akan semakin terisolasi, jika Israel tidak segera mengambil langkah menuju perdamaian.

"Israel tidak akan survive menghadapi gelombang perubahan di dunia Arab dan kebangkitan Islam", ujar Leon Panetta.

Aksi penyerbuan Kedutaan Israel di Cairo, Mesir, yang begitu hebat, dan kemudian membakar sebagian gedung itu, menandai atmoshfir (suhu) politik di duni Arab sedang berubah. Ini dampaknya akan semakin memojokkan posisi Amerika Serikat dalam percaturan politik di kawasan itu.

Apalagi, pemerintahan baru, yang lahir, sangat berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, yang lebih bercorak Islam, dan semakin beragam dalam sistem pengambilan keputusan nantinya.

Amerika Serikat dan sekutunya Israel, harus mempertimbangkan kembali posisinya di tengah-tengah dunia Arab yang sudah berubah, jika masih ingin mempunyai mitra dengan rakyat dan gerakan-gerakan Islam di dunia Arab dan Afrika Utara. Wallahu'alam.

Sumber: http://www.eramuslim.com