Wednesday, April 11, 2012

Para Prajurit Janda


Tak mau larut dalam kepedihan, semangat cinta pada suami menjadi bekal mereka dalam berperang.
OLEH: HENDARU TRI HANGGORO
Sumber: Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid I. Ilustrasi: Micha Rainer Pali
KESULTANAN Aceh belum lama berdiri ketika Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Kesultanan ini secara bertahap menjadi kuat di semenanjung Sumatra pada paruh pertama abad ke-16. Kala itu, lada Sumatra laku keras di pasaran Tiongkok dan Eropa. Hubungan dengan pedagang dari pesisir laut merah pun segera terjalin. Ini membawa keuntungan bagi Kesultanan Aceh.
Portugis melihat itu sebagai ancaman, sementara sultan-sultan Aceh menilai Portugis sebagai lawan. Perang pun tak terelakkan. Aceh menyerang Malaka pada 1537, 1547, 1567, 1574, dan 1629. Dalam peperangan itu, Aceh menyertakan armada perempuan. Orang Portugis agak canggung dibuatnya. Tapi, tak ada pilihan: mereka harus berperang melawan para perempuan. Inilah tilas mula keperkasaan perempuan Aceh.
Kesertaan perempuan Aceh ditemukan dalam perang tahun 1567 walau belum berhimpun dalam kesatuan khusus. Jennifer Dudley, mahasiswi doktoral Universitas Murdoch, menyebut perempuan-perempuan itu bergabung ke dalam pasukan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar. “Mereka menemani suaminya berperang, sementara sisanya adalah janda atau tunangan dari prajurit yang gugur dalam perang sebelumnya,” tulis Dudley dalam “Of Warrior Women, Emancipiest Princesses, ‘Hidden Queens’, and Managerial Mothers.”
Bersandar kepada catatan yang ditemukannya, Dudley tak menampik peran perempuan dalam perang. Sebab, selama ini, kiprah prajurit perempuan dalam sejarah Indonesia lebih banyak bersandar pada mitos, bukan catatan sejarah. Dudley mengakui hal itu lantaran kurangnya sumber tulisan tepercaya tentang riwayat perempuan-perempuan Aceh. Dalam makalahnya, Dudley menggambarkan mereka “bertarung dengan berjalan kaki dan menunggang kuda atau gajah.” Namun, Dudley tak menerangkan dari mana keahlian itu diperoleh.
Keahlian perempuan Aceh berperang tersemai berkat pelatihan di akademi militer Kesultanan Aceh, Baital Makdis. Pendirian akademi ini tak terlepas dari bantuan Kesultanan Turki Usmani. Dua kesultanan ini merenda hubungan baik sejak paruh pertama abad ke-16, sehingga kemungkinan akademi itu didirikan pada kurun yang sama.
Walau tak menyebut kurikulum dan kapan pendiriannya, Ismail Hakki Goksoy, dalam “Ottoman-Aceh Relations According to the Turkish Sources”, makalah pada First International Conference of Aceh and Indian Ocean Studies, mencatat Aceh merekrut ahli militer dan pembuat senapan sejak 1530-an. Dia juga menyebut akademi ini meluluskan seorang perempuan Aceh, Kumalahayati.
Kumalahayati menjadi laksamana perempuan pertama saat Aceh berada di bawah kuasa Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukamil (1589-1604), yang menyerang Portugis di Teluk Aru, dekat Langkat. Tugas Kumalahayati adalah menghadang serangan Portugis setelah peperangan di Teluk Aru. Dia lalu membentuk kesatuan tentara perempuan bernama Inong Balee. Kesatuan ini terdiri dari sekira seribu janda prajurit Aceh yang gugur dalam perang itu.
Kumalahayati salah satu janda tersebut. Meski sedih, dia tak terus meratap; sebab perang belum berakhir. Armada Portugis masih berhimpun di Malaka untuk membalas serangan di Teluk Aru. Dia tak mau kematian suaminya sia-sia. Demi cintanya pada suami, Kumalahayati berlakon sebagai panglima dan jurulatih janda-janda itu.
Teluk Krueng Raya terpilih sebagai markas mereka. Di sana, mereka dilatih mengangkat busur, memegang senapan, menunggang kuda, mengendalikan gajah, dan, tak kalah penting, mengobarkan semangat cinta pada suami sebagai bekal berperang. Selain itu, markas mereka dilengkapi dengan kapal-kapal perang dan meriam.
Peran perempuan dalam kemiliteran Aceh tak terbatas pada pasukan perang. Sultan Muda Ali Riayat Syah V (1604-1607) dikelilingi oleh pasukan pengawal perempuan yang disebut Sukey Inong Kaway. Berbeda dariInong Balee, anggota pasukan ini terdiri dari perempuan bersuami dan perawan. Mereka dipercayakan menjaga istana putri. Anthony Reid, pakar sejarah Asia Tenggara dalam Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga, melihat gejala ini sebagai ketidakpercayaan sultan terhadap penjaga lelaki. Reid menyebut, “Pola ini tampaknya bersumber dari ketidakpercayaan yang dirasakan oleh kalangan raja terhadap setiap lelaki yang mendekati tempat tinggal putri-putri istana.”
Kepercayaan sultan-sultan Aceh pada prajurit perempuannya semakin terbukti dengan pengembangan Inong Balee. Iskandar Muda (1607-1636), sultan Aceh termashyur, mengambil sebagian anggota Inong Balee untuk masuk ke Kemala Cahaya, pengawal kehormatan istana. Sebagian besar adalah perempuan-perempuan berparas cantik. Mereka bertugas menerima tamu-tamu agung sultan. Menurut Ann Kumar, dalam Prajurit Perempuan Jawa, mengutip catatan Peter Mundy, pengelana Inggris yang melawat ke Aceh pada 1637, “para pengawal perempuan berjalan sambil mengusung panah dan busur.”
Menurut A. Hasjmy dalam 59 Tahun Aceh Merdeka, seusai masa Iskandar Muda, prajurit perempuan Aceh terus dibina oleh Sultanah Safiatuddin (1641-1675). Inong Balee, misalnya, tak lagi hanya berisi janda tapi juga perempuan bersuami atau masih gadis. Meski Kesultanan Aceh mengalami kemunduran jelang abad ke-18, peran prajurit perempuan Aceh tak lantas mengendur. Lawan Aceh, Portugis, yang juga mengalami kemunduran, digantikan oleh Belanda. Belanda harus mengalami perang serupa Portugis: menghadapi prajurit perempuan.
Hingga paruh pertama abad ke-20, kiprah perempuan Aceh dalam militer masih tersua. Beberapa nama kesatuan prajurit perempuan bisa disebut, semisal Sukey Fakinah pada akhir abad ke-19 dan Resimen Pocut Baren pada 1945. Dari epos panjang prajurit perempuan Aceh itu, keperkasaan tokoh-tokoh masyhur seperti Cut Nyak Dien dan Cut Meutia dapat terlacak.

Partai-partai Politik Pakistan Tolak Rute Pasokan Nato Dibuka Kembali

Partai-partai politik Pakistan sekali lagi memperingatkan rencana pemerintah untuk membuka kembali rute pasokan NATO, dengan mengatakan tindakan itu hanya akan serangan teror semakin meningkat, laporan Press TV. 




Menurut pimpinan Liga Muslim Awami (AML) Syaikh Rasyid, serangan teror "akan dilanjutkan jika jalur suplai NATO dibuka kembali," dan juga bisa mengancam Punjab. 


Para pemimpin Tehrik-e-Insaf Pakistan (PTI), serta partai politik lainnya menyuarakan penentangan mereka, mengatakan langka tersebut hanya akan menambah kerusuhan di Pakistan. Laporan ini datang pada saat pemerintah Pakistan sedang mempertimbangkan untuk membuka kembali rute pasokan NATO yang sebelumnya diblokir di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat. 


Jamat-e-Islami serta aliansi partai oposisi lainnya, Dewan Difa-e-Pakistan, juga telah berulang kali memperingatkan Islamabad untuk tidak melakukan langkah tersebut. 


November lalu, Islamabad menutup rute pasokan setelah serangan udara AS menewaskan sedikitnya 24 tentara Pakistan di dekat perbatasan Afghanistan. (fq/prtv) 


Sumber: http://www.eramuslim.com

Hilangnya Mutiara Hitam



Datang sebagai pembebas rakyat Kongo, Lumumba menjadi korban Perang Dingin.
OLEH: MF. MUKTHI
PERISTIWANYA terjadi nun jauh di negeri orang: Kongo. Namun di Labuan Batu, Sumatra Utara, buruh-buruh perkebunan marah. Mereka mengambil-alih perkebunan-perkebunan milik pengusaha Belgia di daerah Mrangir, Aek Paminke, Pernantian, Perlabian, Kanopan Ulu, Padang Halaban, Negeri Lama, dan Sennah. Aksi buruh itu tanpa disertai tindak kekerasan. Tak ada korban jiwa. Mereka juga melaporkan ke pihak berwajib setelah selesai aksi.
Di Jawa Barat, aksi serupa gagal. Pangdam Siliwangi Ibrahim Adjie keburu mengeluarkan larangan. “Terhadap perbuatan-perbuatan yang demikian dapat diambil tindakan sesuai dengan ketentuan undang-undang/peraturan-peraturan yang ada dan berlaku bagi Penguasa Keadaan Bahaya,” tulis Pikiran Rakjat, 23 Maret 1961.
Aksi buruh di sejumlah wilayah di Indonesia itu merupakan bentuk protes atas terbunuhnya Perdana Menteri Patrice Lumumba asal Kongo. Lumumba dan rakyatnya dianggap sebagai teman seperjuangan melawan kolonialisme, penindasan, dan penghisapan.
Lumumba lahir 2 Juli 1925 di Onalua, wilayah Katakokombe, provinsi Kasai, Kongo. Saat itu Kongo adalah wilayah jajahan Belgia sejak 1908. Sejak muda, Lumumba gandrung akan kemerdekaan negerinya. Setelah sempat bekerja sebagai sales bir dan klerek kantor pos, dia mulai manapak karier di dunia politik lewat Partai Liberal Belgia. Pada 1958, dia ikut mendirikan Gerakan Nasional Kongo (MNC) dan kemudian jadi presidennya. Pada tahun yang sama, dia mewakli MNC dalam konferensi All-African Peoples di Accra, Ghana, yang mempertebal keyakinannya akan Pan-Afrika.
Di penghujung 1959, Lumumba ditahan atas tuduhan menghasut kerusuhan antikolonial di Stanleyville yang menewaskan 30 orang. Berbarengan dengan masa awal penahanannya, Konferensi Brusel yang membicarakan masa depan Kongo digelar. MNC menuntut pembebasan Lumumba dan berhasil. Lumumba bebas dan hadir dalam konferensi. Konferensi pun memutuskan kemerdekaan Kongo pada 30 Juni. Sebelum perayaan kemerdekaan, digelar pemilihan umum. Lumumba dan MNC menang dan berhak membentuk pemerintahan. Lumumba jadi perdana menteri, dengan wakil Antoine Gizenga. Sementara Joseph Kasavubu, tokoh nasionalis terkemuka asal Partai Abako, terpilih sebagai presiden.
Dalam perayaan kemerdekaan, yang juga dihadiri Raja Belgia Baudouin, Lumumba mengingatkan penderitaan rakyat Kongo di bawah kolonialisme. Dia juga menyebut kemerdekaan Kongo tak diberikan dengan murah hati oleh Belgia.
Bukan hanya Belgia, Amerika Serikat juga tak senang atas kondisi baru di Kongo. Gerakan kemerdekaan total Lumumba mengganggu kepentingan Barat. Terlebih, sebelumnya Amerika menguasai kekayaan alam negeri itu, sebagai kompensasi dukungannya terhadap klaim Raja Belgia Leopold II atas wilayah cekungan Kongo pada abad ke-19. Sebagai gambaran, uranium untuk bahan pembuat bom atom yang digunakan di Hiroshima-Nagasaki diambil dari pertambangan di Kongo. “Selama 126 tahun, AS dan Belgia telah memainkan peran kunci dalam membentuk nasib orang Kongo,” tulis Georges Nzongola-Ntalaja, profesor African and Afro-American studies di University North Carolina, dalam “Patrice Lumumba: The Most Important Assassination of the 20th Century”, dimuat www.guardian.co.uk.
Amerika pun mendorong Belgia untuk mengambil-alih Kongo kembali. Mereka menginginkan status quo. Di tengah Perang Dingin, mereka juga khawatir Kongo jatuh ke Blok Timur.
Di dalam negeri, Lumumba menghadapi pemberontakan tentara yang tak puas atas kebijakannya yang hanya menaikkan gaji pegawai sipil. Kerusuhan juga meluas. Tak lama kemudian Provinsi Katanga di bawah Moise Tshombe, dengan dukungan Belgia dan perusahaan pertambangan seperti Union Miniere, memerdekakan diri. Provinsi kaya sumberdaya alam lainnya, Kasai Selatan, menyusul.  
Lumumba minta pasukan penjaga perdamaian PBB memadamkan pemberontakan tapi tak berhasil. Dia berpaling ke Uni Soviet.
Presiden Kasavubu, yang tak suka cara yang ditempuh Lumumba, memecat Lumumba. Lumumba protes. Kongo dikendalikan dua kubu yang saling klaim kekuasaan, Kasavubu di Leopoldsville (kini Kinshaha) dan Lumumba di Stanleyville (kini Kisangani). Ketidakamanan itu membuat Kolonel Joseph Mobutu melakukan kudeta pada 14 September. Lumumba dikenai tahanan rumah dengan penjagaan pasukan keamanan PBB. Dia sempat meloloskan diri dan membentuk pemerintahan di pelarian, namun akhirnya kembali ditangkap.
Soviet, yang menuding sekjen PBB dan Barat sebagai pihak yang bertanggungjawab atas penangkapan itu, menuntut pembebasan Lumumba. Dewan Keamanan PBB lalu menggelar sidang darurat. Perdebatan sengit dan saling veto antara Blok Timur dan Blok Barat terjadi. Soviet kalah suara. Negara-negara yang setuju pendapat Soviet menarik diri dari kontingen pasukan perdamaian. Indonesia salah satunya.
Setelah dipindah ke sana kemari, Lumumba dibawa ke Provinsi Katanga. Dia lalu disekap di Brouwez House. Di situ Tshombe dan “utusan-utusan” Barat merapatkan pembunuhan Lumumba.
Suatu malam awal 1961, Lumumba dibawa ke sebuah tempat rahasia dan wafat di tangan tiga regu tembak. Jasadnya dimutilasi dan dibuang. “Ini jelas solusi elegan yang terbaik bagi Katanga: kematian pasti untuk Lumumba, dan tangan orang-orang Tshombe bersih dari lumuran darah,” tulis Ludo De Witte dalam The Assassination of Lumumba. De Witte menyebutnya sebagai “pembunuhan terpenting abad ke-20”.
Selama puluhan tahun, kematian Lumumba menyisakan kabut: siapa aktor dan dalang di balik pembunuhannya. Belgia menuding Tshombe. Namun pembunuhan itu kini tersingkap tirainya. “Kejahatan keji ini merupakan puncak komplotan pembunuhan buatan pemerintah Amerika dan Belgia, yang menggunakan tangan Kongo dan regu tembak Belgia untuk melaksanakannya,” tulis Georges Nzongola-Ntalaja.
Kematian Lumumba mengejutkan banyak orang di belahan dunia. Di Indonesia, Presiden Sukarno, yang juga berkali-kali jadi sasaran pembunuhan dari tangan-tangan kekuatan asing, menyebut tindakan pengecut itu sebagai banditisme dan menyimpulkannya sebagai tindakan ofensif baru kaum imperialis yang terpaksa dilakukan karena di mana-mana mereka dipukul mundur. Untuk mengenangnya, Sukarno mengabadikan namanya menjadi Jalan Patrice Lumumba (kini Jalan Angkasa, Jakarta) di kawasan Gunung Sahari.
Sementara D.N. Aidit, ketua CC PKI, menyerukan: hukum pembunuh Lumumba dan dukung pemerintah Gizenga! Aidit juga menorehkan kepedihannya dalam sebuah puisi “Yang Mati Hidup Kembali”. Sejawatnya, Njoto, menulis “Merah Kesumba”: Darah Lumumba Merah Kesumba / Kongo!

Kofi Annan Serukan Akhiri Kekerasan di Suriah Tanpa Prasyarat

Utusan PBB dan Liga Arab untuk Suriah Kofi Annan menyerukan diakhirinya kekacauan selama satu tahun di negara itu "tanpa prasyarat."




"Saya percaya seharusnya tidak ada prasyarat untuk menghentikan aksi kekerasan," kata Annan dalam konferensi pers, Selasa kemarin (10/4). Mantan Sekjen PBB itu membuat pernyataan setelah mengunjungi kamp pengungsi di perbatasan Suriah di provinsi Turki selatan Hatay. 


"Saya sekali lagi menyerukan pemerintah Suriah dan oposisi Suriah untuk menghentikan kekerasan sesuai (dengan) rencana," kata Annan, mengacu pada rencana enam poin yang ia usulkan ke Damaskus pada bulan Maret lalu.


Pada tanggal 5 April juru bicara pemerintah Suriah Annan Ahmad Fawzi mengatakan, "Apa yang kami harapkan pada 10 April adalah bahwa pemerintah Suriah akan menyelesaikan penarikannya dari pusat penduduk."


Penarikan ini merupakan bagian dari rencana enam poin. Menlu Suriah Walid al-Muallem juga mengatakan pada hari Selasa kemarin, "Kami telah menarik pasukan dan unit tentara dari beberapa provinsi Suriah." Muallem membuat pernyataan dalam konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Moskow. (fq/prtv)


Sumber: http://www.eramuslim.com

Mahasiswa Pakistan Kecam AS yang Janjikan Hadiah Untuk Penangkapan Hafiz Said



Ratusan mahasiswa Pakistan mengadakan demonstrasi menentang AS di Karachi, memprotes sikap Washington yang menjanjikan hadiah untuk pimpinan sebuah kelompok Islam Pakistan, Press TV melaporkan.  


Para mahasiswa turun ke jalan pada hari Selasa kemarin (10/4) mengutuk tindakan AS terhadap pendiri dan pimpinan Jamaat-ud-Dawa, Hafiz Muhammad Said. Dalam aksi para pengunjuk rasa mahasiswa membakar bendera AS dan menuntut permintaan maaf dari Washington karena menghina warga negara Pakistan. 


Mereka percaya bahwa Washington sedang mencoba untuk membalas terhadap Said untuk oposisi publiknya menentang serangan pesawat tak berawak AS di wilayah Pakistan serta rencana pembukaan kembali rute Pakistan untuk pasokan NATO menuju ke Afghanistan. 


Pada tanggal 2 April lalu, pemerintah AS mengumumkan bahwa mereka akan menawarkan hadiah sebanyak 10 juta dolar untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Said, yang telah dituduh mendalangi serangan Mumbai November 2008.


Serangan menyebabkan sekitar 160 orang tewas. Islamabad mengatakan Said telah dibersihkan oleh pengadilan Pakistan akan keterlibatannya dalam serangan itu.(fq/prtv)


Sumber: http://www.eramuslim.com

Kekecewaan Seeorang Jepang

Menyebut negerinya berkhianat kepada Indonesia, dia memilih berjuang dan mati untuk kemerdekaan Indonesia.


OLEH: HENDRI F. ISNAENI

PADA 15 Februari 1958, Presiden Sukarno menyerahkan sebuah teks kepada Shigetada Nishijima untuk disimpan di biara Buddha Shei Shoji di Minatoku, Tokyo. Teks itu berisi kenangan Sukarno kepada dua orang Jepang yang membantu perjuangan Indonesia: Ichiki Tatsuo dan Yoshizumi Tomegoro.
Di biara Buddha itu kemudian dibuat monumen Sukarno (Soekarno hi) bertuliskan: "Kepada sdr. Ichiki Tatsuo dan sdr. Yoshizumi Tomegoro. Kemerdekaan bukanlah milik suatu bangsa saja, tetapi milik semua manusia. Tokyo, 15 Februari 1958. Soekarno."   
Ichiki Tatsuo lahir di kota kecil Taraki, prefektur Kumamoto, bagian selatan Kyushu. Dia anak ketiga dari enam bersaudara. Ketika kecil, orangtuanya bercerai, dia ikut ibunya. Ichiki dibesarkan saat Jepang berada pada masa transisi. Kebebasan dan demokrasi selama zaman Taisho (1912-1926) mulai tergerus oleh tekanan militer pada masa Showa (1926-1989). Banyak pemuda desa seperti juga Ichiki bercita-cita mencari kehidupan baru di Amerika Selatan atau Samudra Pasifik bagian selatan, yaitu Asia Tenggara.
Kesempatan itu pun datang. Datang surat dari teman sekampung, Tsuruoka Kazuo, yang sukses mendirikan toko kelontong –dikenal dengan sebutan toko Jepang– di kota Pagar Alam, dekat Palembang, Sumatra Selatan. Isinya: mengundang Ichiki untuk datang dan bekerja di studio foto Miyahata di Palembang. Saat itu Ichiki berusia 21 tahun. Dia meninggalkan bangku sekolah menengah sebelum lulus dan magang di sebuah studio foto, dekat kampungnya. Pada 22 Januari 1928, Ichiki pun berangkat.
"Dia bermimpi menjalankan studio foto terbesar di Samudra Pasifik bagian selatan," tulis Goto dalam “Life and Death of Abdul Rachman (1906-49): One Aspect of Japanese-Indonesian Relationships," Indonesia, Vol 22, 1976.
Pada 1933, Ichiki datang ke Bandung karena saudara mudanya, Naohiro yang menyusulnya pada akhir 1929, meninggal dunia. Ichiki tak kembali ke Palembang tapi tetap di Bandung dan bekerja di studio foto. Merasa tak nyaman, dia jadi kondektur bus. Tak cocok, dia meninggalkan pekerjaan ini dan tinggal di rumah Iti, perempuan dari keluarga miskin di sebuah kampung di Sumedang. Dia menemukan kedamaian, bahkan merasa hampir sepenuhnya sebagai orang Indonesia. "Ini adalah kelahiran baru Ichiki Tatsuo," tulis Kenichi.
Dalam kehidupan keras di kampung ini, Ichiki memupuk pengetahuan bahasa Indonesia sampai dia menyusun kamus Indonesia-Jepang. Ichiki tetap mengikuti perkembangan politik di Jepang. Untuk itu, dia sering pergi ke Klub Jepang di Bandung. Dia juga melahap koran dan majalah JepangTerkadang dia menerjemahkan artikel bertopik semangat Jepang Bushido lalu menjualnya koran-koran lokal.
Machida Taisaku, pemimpin senior Klub Jepang di Bandung, merekomendasikan Ichiki ke koran Nichiran Shogyo Shinbun, yang dijalankan Kubo Tatsuji, advokat pendukung Asianisme. Pada Juli 1937, koran ini merger dengan Jawa Nippo dan berubah nama menjadi Toindo Nippo (Harian Hindia Timur) tapi tetap anti-Belanda. Pemerintah Hindia Belanda, yang menganggap Jepang sebagai ancaman, meningkatkan pengawasan terhadap kegiatan Ichiki dan kawan-kawannya.
Pada 1938, untuk mendiskusikan proyek Toindo Nippo lebih kongkret, Ichiki kembali ke Tokyo. Tapi sebelum berangkat ke Indonesia, dia menerima telegram dari Belanda di Batavia yang melarangnya masuk kembali ke Jawa karena kegiatan anti-Belandanya. Ichiki pun bekerja sebagai peneliti paruh waktu di Biro Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri dan di Staf Umum Angkatan Darat.
Pada 1940-an, Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda secara bertahap memperkuat embargo ekonominya kepada Jepang. “Hal ini bahkan mengakibatkan semakin pentingnya arti Indonesia bagi Jepang. Pada saat itu, pemimpin-pemimpin Jepang mulai membicarakan secara terang-terangan ‘pembebasan’ Indonesia,” tulisnya Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.
Pada masa ini, Ichiki berteman dekat dengan Joseph Hassan, pejuang kemerdekaan Indonesia yang secara diam-diam dikirim ke Jepang oleh teman Jepangnya, seperti Machida Taisaku and Sato Nobuhide. "Ichiki dan Hassan akan menghabiskan berjam-jam dengan antusias berbicara tentang hari esok rakyat Indonesia setelah mereka dibebaskan," tulis Kenichi.
Setelah menggulingkan Belanda pada Maret 1942, Jepang disambut dengan suka cita sebagai Saudara Tua. Namun, suasana itu tak berlangsung lama. Jepang segera melarang berbagai aktivitas politik. Ichiki pun kecewa.
Pada sesi Imperial Diet (Majelis Perwakilan Tertinggi Jepang) awal 1943, Perdana Menteri Hideki Tojo menyebutkan akan memberikan kemerdekaan bagi Filipina dan Burma di akhir tahun 1943, tapi Indonesia tidak disebut. Sekali lagi, Ichiki frustasi dan lambat-laun membenci negerinya sendiri.
Pada Oktober 1943, Jepang membentuk Pembela Tanah Air (Peta) –kelak menjadi inti dari angkatan bersenjata Indonesia. Ichiki bekerja sebagai petugas paruh waktu di Divisi Pendidikan Peta di Bogor. Dia membangun sebuah rumah terpencil di perkebunan karet dan menyebut dirinya –karena kulitnya agak gelap– "gagak dari Bogor." Pekerjaannya menerjemahkan manual tentara Jepang seperti Rikugun Hohei Soten(Manual Infantri) dan menjadi editor majalah Heiho, Pradjoerit. Melalui karyanya, dia merasa masih bisa melayani masyarakat Indonesia. Ichiki juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Asia Raya.
Pada 15 Agustus 1945, berita kekalahan Jepang sampai pada Ichiki. Jepang, yang melalui Perdana Menteri Kuniaki Koiso, pengganti Tojo, berjanji memberikan "kemerdekaan Indonesia di kemudian hari" pada 7 September 1944, mengingkari dan mematuhi perintah Sekutu, serta menyatakan tak ada hubungannya lagi dengan masalah kemerdekaan Indonesia. Ichiki merasa Jepang telah mengkhianati rakyat Indonesia dua kali: pada awal dan akhir pendudukan.
Di hari Jepang menyerah, Ichiki menyatakan berpisah dengan Jepang. Dia menentang tentara Sekutu dan pendaratan pasukan Belanda, serta bertekad untuk berbagi dengan rakyat Indonesia akan nasib ibu pertiwi barunya, Republik Indonesia, bukan sebagai seorang Jepang Tatsuo Ichiki, tapi sebagai pemuda Abdul Rachman. Nama Abdul Rachman diberikan oleh H. Agus Salim ketika menjadi penasihat Divisi Pendidikan Peta, sebagai bentuk penghargaan kepadanya yang memihak Republik.
Pada masa perang kemerdekaan, Abdul Rachman memimpin Pasukan Gerilya Istimewa di Semeru, Jawa Timur, yang disegani Belanda. Pasukan yang dibentuk pada 1948 ini merupakan satuan khusus di bawah militer Indonesia yang beranggotakan sekira 28 orang tentara Jepang yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka disebut zanryu nihon hei atau prajurit yang tinggal di belakang.
Pada 9 Januari 1949, desa terpencil Dampit dekat Malang, Jawa Timur, yang merupakan salah satu medan pertempuran paling sengit, menjadi akhir riwayat sang samurai. Abdul Rachman berlari ke depan melawan arus peluru Belanda untuk mendorong pasukan Indonesia, yang mulai ragu melihat kekuatan Belanda, agar menyerang. Alhasil, beberapa peluru Belanda menembus dahinya.

Sumber: http://historia.co.id

Sy'iah, Holocaust dan Clash of Civilization

MESKI KEKEJAMAN pemerintahan syi’ah di Iran dan di Suriah sudah sedemikian nyata, para misionaris syi’ah di Indonesia masih saja berusaha meyakinkan umat Islam Indonesia, bahwa syi’ah itu agama damai, syi’ah itu salah satu madzhab dalam Islam yang diakui dunia internasional, bahwa syi’ah itu Islam juga. 




Terhadap kekejaman syi’ah di Suriah, kalangan syi’ah cenderung membela diri, bahwa yang dibunuhi itu adalah rakyat yang memberontak kepada pemerintah, bahwa Bashar Assad itu bukan penganut syi’ah, dan sebagainya. Selain itu, para misionaris syi’ah juga cenderung mencari “pihak ketiga” yang bisa dijadikan musuh bersama yaitu paham wahabi. Menurut para misionaris syi’ah, paham wahabi bahkan memposisikan syi’ah dan sunni (ahlus sunnah) sama-sama sesat. Mereka juga mengatakan, sebagaimana pernah dikatakan Zen Al-Hady narasumber Radio Silaturahim (Rasil), Kerajaan Saudi yang berpaham Wahabi itu bahkan memposisikan ormas NU sebagai berpaham sesat.


Menurut misionaris syi’ah, musuh umat Islam bukanlah syi’ah karena syi’ah bagian dari Islam. Tetapi, selain paham wahabi musuh Islam adalah: mereka yang membuat karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw; penulis buku ayat-ayat setan dan yang melindungi penerbitan buku itu; mereka yang menganggap Islam sebagai agama kekerasan dan barbar; mereka yang menguasai Masjidil Aqsha, kiblat pertama kaum muslimin dan menjadikannya sebagai ibu kotanya. Begitulah propaganda misionaris syi’ah, yang antara lain bisa ditemukan pada sebuah surat terbuka berjudul “Surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi kepada ulama Wahabi” yang bisa ditemui di situs penganut syi’ah Alwi Husein (alwihusein.multiply.com) Zen Al-Hady salah satu narasumber Radio Silaturahim (Rasil) juga kerap mengutip materi propaganda khas syi’ah tadi dalam berbagai kesempatan. Tapi alhamdulillah umat Islam tidak begitu mudah percaya dengan propaganda tersebut. 


Musuh-musuh Islam seperti disebutkan oleh Ayatullah Makarim Syirazi melalui surat terbukanya di atas, memang benar. Namun syi’ah pun bagian dari musuh Islam. Memerangi syi’ah bukanlah memerangi sesama muslim, karena syi’ah apapun sektenya, mereka kini sudah memerangi Islam. Bahkan syi’ah lebih dekat diposisikan dengan pihak harby. Akhir-akhir ini para misionaris syi’ah menyebarluaskan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi, boleh jadi karena mereka panik dan tidak punya cara lain untuk menutupi kekejaman rezim syi’ah di Suriah. Pada surat terbuka itu antara lain dituliskan, seolah-olah pernah ada pertemuan aneh dan langka di sebagian negara-negara Islam, yang berlangsung pada tanggal 16 Dzul Qa’dah 1427 H. 


 Konon, sejumlah 38 ulama dan dosen wahabi dari Universitas Ummul Qura dan Universitas Malik Su’ud, serta ulama dan dosen dari sebagian kecil wilayah Arab Saudi lainnya, menandatangani sebuah deklarasi yang berisi fatwa untuk membunuhi orang-orang syi’ah di Irak, bahkan orang-orang syi’ah di seluruh dunia. Alasannya, kata Ayatullah Makarim Syirazi, para ulama dan dosen wahabi itu menuduh bahwa orang-orang syi’ah itu rafidhi safawi yang merupakan sekutu Amerika dan kerap membunuhi orang Islam. Benarkah adanya deklarasi berisi fatwa membunuhi orang-orang syi’ah itu adalah sesuatu yang bisa dipertangung jawabkan? Yang pasti saat ini justru umat Islam-lah yang jadi korban pembantaian rezim syi’ah di Suriah. Juga, di Iran. Kalau toh deklarasi itu memang ada, tentu saja tidak lantas menganulir bahwa syi’ah itu secara akidah memang bertentangan dengan Islam. 


Jangan membodohi umat Islam. Dalam salah satu alineanya, surat terbuka yang konon berasal dari Ayatullah Makarim Syirazi mengatakan: “Apakah Nabi Muhammad saw tidak pernah memberikan aturan dalam berperang bahwa ketika berperang melawan kaum musyrikin, anak-anak dan wanita jangan dibunuh. Bagaimana mungkin kelompok dari kalian melupakan aturan Islam yang sangat manusiawi ini, ketika menghadapi sekelompok dari kaum muslimin? Dengan teror, kalian membantai semuanya.” Kecaman Ayatullah Makarim Syirazi di atas, sepantasnya ditujukan kepada rezim syi’ah di Suriah, dan sama sekali tidak cocok ditujukan kepada umat Islam Indonesia, apalagi umat Islam di Suriah yang dizalimi dan dianiayaya rezim syi’ah nushairiyah di negerinya sendiri. Sesuatu yang tidak cocok itu ternyata oleh para misionaris syi’ah dijadikan materi propaganda, setidaknya untuk mengalihkan perhatian umat Islam atas kekejaman rezim syi’ah di Suriah yang berlangsung cukup lama. 


Mungkin mereka bermaksud memberikan kesan bahwa orang-orang syi’ah itu juga dizalimi oleh paham wahabi sebagaimana ditulis dalam surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi di atas. Gaya seperti itu persis gaya Yahudi dengan menciptakan public opinion yang terkenal dengan sebutan holocaust (pembasmian). Melalui public opinion itu bangsa Yahudi ingin memposisikan dirinya sebagai bangsa yang teraniaya akibat praktik genosida (pemusnahan suatu bangsa) yang dilakukan Nazi Jerman dengan tokoh utamanya Hitler. Genosida terhadap bangsa Yahudi yang berlangsung antara tahun 1933-1945 itu, konon menyebabkan sejumlah 6 juta orang Yahudi menjadi korban pembunuhan rezim Hitler. Belakangan, holocaust disangkal oleh sejumlah ilmuwan seperti Roger Garaudy, Professor Robert Maurisson, Ernst Zundel, David Irving, dan sebagainya. Akibatnya, mereka harus mendekam di penjara. 


Bahkan, korban kekejaman Hitler yang selama ini dipatok pada angka 6 juta, sebenarnya jauh lebih kecil, yaitu di bawah angka satu juta jiwa. Angka itu (di bawah satu juta jiwa) bagi kita umat Islam yang menjunjung tinggi syari’at Allah dan kemanusiaan, tetap masih sangat banyak. Namun yang jauh lebih banyak lagi adalah kebohongan Yahudi yang membentuk opini bahwa bangsa Yahudi korban kekejaman Hitler berjumlah 6 juta jiwa. Sehingga, dengan alasan itu mereka merasa ‘berhak’ membunuhi bangsa Palestina, dan orang-orang Islam pada umumnya di seluruh permukaan bumi. Padahal, ketika Yahudi dikejar-kejar rezim Hitler, mereka justru berlindung di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. 


Selain holocaust, gaya berkelit ala Yahudi juga bisa ditemukan pada wacana benturan antarperadaban yang dipopulerkan oleh Samuel Phillips Huntington (kelahiran New York City, 18 April 1927) setidaknya sejak 1998, satu dekade sebelum ia akhirnya meninggal dunia pada 24 Desember 2008. Wacana itu ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia). Intinya, setelah komunisme yang menjadi musuh utama Amerika Serikat dan negara-negara Barat pada umumnya, tumbang, maka musuh berikutnya adalah peradaban Islam. Menurut Huntington, di antara berbagai peradaban besar yang tetap tegak hingga kini adalah peradaban Islam. Sebagai peradaban yang terus tegak, Islam dinilai menjadi peradaban yang paling berpotensi mengancam peradaban Barat. 


Wacana benturan antarperadaban yang diusung Huntington itu bisa merupakan fakta sahih, atau analisa semata, atau justru merupakan sebuah skenario politik Barat (Amerika dan sekutunya), untuk mempunyai landasan bertindak memerangi Islam. Sebagaimana sudah diketahui umum, setiap kebijakan politik Amerika Serikat pastilah dilahirkan oleh kepentingan politik Yahudi ‘perantauan’ yang berada di Amerika Serikat dan di belahan negara Barat lainnya. Apalagi, kemudian wacana benturan antarperadaban Huntington itu tak berapa lama mendapat pembenaran melalui kasus WTC 911 yang terjadi pada 11 September 2001, yang konon dilakukan oleh organisasi teroris Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden, yang merupakan salah satu anak keluarga bin Laden yang selama ini menjadi mitra bisnis AS. Osama dan Al-Qaeda kemudian menjadi icon peradaban Islam yang menggoyang peradaban Barat. Al-Qaeda regional dan lokal pun muncul, termasuk di Indonesia. 


Sejumlah tokoh atau oknum JI (Jama’ah Islamiyah) yang keberadaannya disangkal oleh Abu Bakar Ba’asyir, pun turut melaksanakan ‘serangan’ terhadap peradaban Barat, antara lain berupa Bom Bali I, Bom Bali II, Bom JW Marriott dan sebagainya. Maka, sempurnalah alasan yang diperlukan untuk menjalakankan skenario menggempur peradaban Islam melalui perang melawan terorisme. Kemudian dalam rangka memerangi peradaban Islam yang dikesankan keras ala Al-Qaeda dan JI, muncullah JIL (Jaringan Islam Liberal) dan sejumlah tokoh anak wayang seperti Ulil, Musdah, Maarif, dan sebagainya. Belakangan muncul pula program deradikalisasi yang menguntungkan Said Agil Siradj. Fenomena inilah yang dimanfaatkan oleh kalangan syi’ah untuk dijadikan momentum menjual paham sesat syi’ah laknatullah. Misionaris syi’ah seperti Zen Al-Hadi narasumber Radio Silaturahim (Rasil) dan Jalaluddin Rakhmat dari IJABI, selalu menjadikan tindakan oknum JI sebagai contoh paham wahabi yang sebaiknya dijadikan musuh bersama umat Islam dan syi’ah. Daripada berpaham wahabi yang keras mendingan syi’ah. Daripada atheis mendingan syi’ah. Pernyataan itu seolah-olah benar padahal keliru. 


Selain menjadikan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi sebagai materi propaganda membela syi’ah, para misionaris paham sesat syi’ah laknatullah ini juga menjadikan sebuah foto editan untuk mengalihkan perhatian dan emosi umat Islam atas kekejaman rezim syi’ah di Suriah. Pada foto tersebut terlihat George Bush (Presiden AS sebelum Obama) sedang tempel pipi dengan Raja Arab Saudi. Selama ini George Bush dituding melakukan pembantaian terhadap satu juta muslim di Iraq, dan Raja Abdullah dari Saudi dituding menjadi sekutu George Bush dalam upaya pembunuhan itu. Peristiwa itu kalau benar terjadi, tidak akan pernah menganulir kesesatan syi’ah yang secara akidah bertentangan dengan umat Islam, tidak akan mengalihkan perhatian umat Islam terhadap kekejaman rezim syi’ah terhadap umat Islam di Suriah dan di Iran. 


Cara-cara di atas, yaitu menjadikan surat terbuka Ayatullah Makarim Syirazi dan foto editan sebagai materi kampanye syi’ah mengalihkan perhatian dan emosi umat Islam terhadap kekejaman rezim syi’ah di Suriah, adalah perbuatan dungu bin tolol. Karena kesesatan syi’ah secara akidah, tidak bisa dianulir oleh praktik politik Saudi Arabia, dan sebagainya. Saudi mau runtang-runtung dengan AS dan sebagainya, itu urusan politik mereka. Dalam urusan akidah, umat Islam tetap konsisten menyatakan bahwa syi’ah tetap sesat dan dengan kejamnya sudah membunuhi jutaan ummat Islam dari dulu hingga sekarang. Padahal masalah membunuhi orang Muslim itu adalah perkara sangat besar, hingga menjadi urutan pertama diputuskannya di hari qiyamat sebelum perkara-perkara lainnya[i].


Sadarilah wahai para manusia yang mengaku Muslim bahkan tokoh namun kini bersuara membela syiah. Tidak takutkah kalian kelak di akherat akan diseret pula sebagai orang yang harus mempertanggung jawabkan sikapnya atas dukungan kepada golongan sesat syiah yang telah membunuhi Ummat Islam? 


Ilustrasi: aljazerah 


(haji/tede/nahimunkar.com)


Sumber: http://www.eramuslim.com